Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Panas yang Mengintai Pekerja Jalanan

Usai kehilangan pekerjaan tahun lalu, Wahyu Kurniawan, 36 tahun, sementara waktu tak punya banyak pilihan. Ia beralih menjadi pengemudi ojek online untuk menopang ekonomi keluarga. Ketika masih bekerja sebagai karyawan di perusahaan sektor ritel, sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam ruangan. Setelah terkena pemutusan hubungan kerja, hampir sepertiga harinya kini habis di jalan.

Perubahan itu membuat Wahyu lebih sering berhadapan langsung dengan cuaca panas yang belakangan terasa makin ekstrem. Tubuhnya lebih cepat terkuras. Ia juga lebih sering merasakan tanda-tanda kelelahan akibat paparan panas.

“Sering dehidrasi, lebih cepat lelah, dan kadang sering pusing juga,” kata Wahyu kepada Ekuatorial.com.

Sudah lebih dari setahun Wahyu menjadi pekerja luar ruang. Ia berangkat pagi dan baru pulang malam. Tekanan ekonomi membuatnya tak leluasa mengatur jam kerja untuk menghindari terik matahari.

“Selama orderan lumayan ramai, lanjut terus. Paling sering-sering berteduh dan cuci muka,” katanya.

Konsekuensinya, pengeluaran kecil yang dulu tak terlalu terasa kini menjadi rutin. Setiap hari, Wahyu setidaknya membeli air minum kemasan dua kali agar tetap kuat bekerja di jalan.

Pada Rabu, 17 Juni, Wahyu ditemui di MTHUB Food Park, Cawang, Jakarta Timur. Hari itu ia ikut dalam peringatan Hari Aksi Panas atau Heat Action Day yang diselenggarakan Palang Merah Indonesia Pusat. Di lokasi tersebut, ia ikut mengantre air minum gratis di water station bersama puluhan pekerja luar ruang dan sejumlah pejalan kaki.

Mengambil momentum Hari Aksi Panas, PMI menyediakan layanan air minum gratis bagi masyarakat yang beraktivitas di tengah cuaca panas. Fasilitas itu terutama ditujukan bagi kelompok rentan, termasuk pengemudi ojek online, pedagang kaki lima, pengguna transportasi umum, serta pejalan kaki di sekitar lokasi kegiatan.

“Masyarakat dapat mengambil air minum secara gratis menggunakan tumbler pribadi atau gelas kertas yang telah kami sediakan. Tujuannya untuk membantu masyarakat menjaga hidrasi dan mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan suhu panas, seperti dehidrasi dan kelelahan akibat panas,” kata Dewi Ariyani, Kepala Sub Pengurangan Risiko Bencana Markas Pusat PMI.

Hari Aksi Panas Internasional sejatinya diperingati setiap 2 Juni. Peringatan ini diprakarsai oleh Palang Merah Internasional sejak tahun lalu. Markas PMI Pusat baru menggelar kampanye tersebut pada Rabu pekan lalu dengan mengajak masyarakat lebih siap menghadapi cuaca panas serta menerapkan langkah-langkah sederhana untuk melindungi kesehatan.

Selain menyediakan air minum gratis, PMI juga membagikan payung dan kipas tangan kepada sejumlah pekerja luar ruang. Di antaranya penjaja kopi keliling dengan sepeda, juru parkir, dan pedagang kaki lima yang setiap hari bekerja di bawah paparan sinar matahari langsung.

Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Adaptasi Iklim Markas Pusat PMI, Niniek Kun Naryatie, mengatakan aksi ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan Program Urban Heat atau Kota Panas. Program tersebut dijalankan PMI bersama Palang Merah Amerika untuk meningkatkan ketahanan masyarakat perkotaan terhadap risiko cuaca panas dan dampaknya bagi kesehatan.

“Dampak dari panas ekstrem ini bisa dicegah sebelum menjadi krisis kemanusiaan, terutama yang dihadapi oleh kelompok rentan,” katanya.

Sejak pagi hingga pukul 12.00 WIB, para relawan PMI juga mengedukasi masyarakat tentang cara beradaptasi dengan cuaca panas. Mereka mengingatkan pentingnya menggunakan payung atau topi saat beraktivitas di bawah terik matahari, memakai tabir surya, mengenakan pakaian longgar dan berwarna terang yang mudah menyerap keringat, serta memperbanyak konsumsi air minum.

Indonesia saat ini menghadapi tren peningkatan suhu udara dari tahun ke tahun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat adanya kecenderungan kenaikan temperatur dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah.

Jauh sebelum Hari Aksi Panas diperingati, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengingatkan bahwa tren kenaikan suhu global telah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius. Peringatan itu kembali disampaikan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni lalu.

“Sebelas tahun terakhir tercatat sebagai periode terpanas sepanjang sejarah. Kerusakan yang terjadi jauh melampaui sekadar kenaikan suhu bumi, mulai dari udara yang tercemar, kerusakan lahan, rusaknya ekosistem, hingga hilangnya keanekaragaman hayati. Semua itu mengancam kesehatan, menghancurkan tempat tinggal, dan memperparah krisis kelaparan,” kata Guterres dalam pidatonya.

“Setiap peningkatan suhu, sekecil apa pun, akan membawa dampak buruk yang lebih besar, terutama bagi mereka yang paling rentan,” ujarnya.

Data penelitian terbaru dari lembaga sains global seperti NASA GISS dan Copernicus, termasuk data resmi BMKG, menunjukkan tren pemanasan yang terus berlanjut di tingkat global maupun nasional.

Secara umum, tahun 2024 masih memegang rekor sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan modern. Sementara itu, tahun 2025 tercatat sebagai tahun ketiga terpanas secara global dan menempati urutan keenam terpanas di Indonesia, seiring meredanya fenomena El Nino secara bertahap.

Temuan ilmuwan global pada 2025 sampai 2026, termasuk dari World Meteorological Organization, menunjukkan ambang risiko yang semakin dekat. WMO memproyeksikan peluang sebesar 91 persen bahwa setidaknya ada satu tahun dalam rentang 2026 sampai 2030 yang akan melampaui batas kritis pemanasan 1,5 derajat Celsius secara temporal.

Ilmuwan iklim juga memproyeksikan suhu bumi berpotensi kembali melonjak dan mencetak rekor baru hingga mencapai 1,7 derajat Celsius pada 2027. Lonjakan itu dipengaruhi oleh siklus cuaca dinamis yang dapat memperparah tren pemanasan global.

Di Indonesia, ancaman panas ekstrem juga semakin nyata. Berdasarkan studi World Weather Attribution, Indonesia dan negara-negara kepulauan kecil diproyeksikan menghadapi tambahan 57 hari panas ekstrem per tahun pada akhir abad ke-21. Meski Indonesia bukan penyumbang emisi terbesar di dunia, posisi geografisnya membuat wilayah ini sangat rentan terhadap dampak krisis iklim.

Namun, menurut PMI, panas ekstrem di Indonesia belum dinyatakan sebagai risiko atau bahaya yang mengancam jiwa. Padahal, dampaknya sudah mulai dirasakan masyarakat, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan.

“Tapi kita bisa merasakan dampaknya. Ini lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya, terutama buat pekerja luar ruangan,” kata Dewi Ariyani.

PMI menyadari salah satu penyebab belum kuatnya respons terhadap panas ekstrem adalah ketiadaan indikator dan analisis data yang memadai. Untuk curah hujan dan indeks kualitas udara, BMKG telah memiliki indikator yang dapat dirujuk lembaga lain dalam menyusun langkah antisipasi. Namun untuk panas ekstrem, indikator dan indeks yang bisa menjadi dasar aksi lintas sektor belum tersedia secara memadai.

“Kalau ingin melihat dampak kesehatan, butuh data dari sektor lain. Kita pernah pertemuan pertama dengan BMKG, KLH, dan Kemenkes. Tapi belum banyak kajian dampak panas pada kesehatan,” ungkap Dewi.

PMI berharap ada pemahaman bersama bahwa panas ekstrem merupakan isu krusial, bukan hanya bagi sektor kesehatan. Integrasi data lintas sektor diperlukan untuk menganalisis dampaknya, sekaligus merancang sistem peringatan dini yang bisa dipahami publik dan dijalankan pemerintah.

BMKG sebenarnya telah menyediakan Indeks Kenyamanan Termal yang dapat diakses melalui laman iklim.bmkg.go.id/id/urban-jakarta. Namun, layanan ini masih terbatas untuk wilayah Jakarta, Kepulauan Seribu, dan Jabodetabek.

Fajar Ridzki Abdullah dari BMKG mengatakan, lembaganya tengah menyiapkan dashboard pemutakhiran Indeks Kenyamanan Termal untuk seluruh wilayah Indonesia, termasuk pengembangan sistem peringatan dini terkait cuaca panas.

“Untuk wilayah seluruh Indonesia, termasuk yang terkait dengan early warning, memang masih dalam tahap pengembangan,” kata Fajar.

Menurut Fajar, kebutuhan terhadap indeks cuaca panas sudah mendesak. Selama ini publik lebih akrab dengan informasi curah hujan, karena BMKG telah memiliki kanal, aplikasi, serta rekomendasi aksi pada sejumlah kondisi cuaca. Sementara untuk cuaca panas, kesadaran publik belum terbentuk sekuat isu hujan ekstrem atau kualitas udara.

“Kalau untuk panas, sebenarnya sudah kategori urgen juga. Dari prediksi Indeks Kenyamanan Termal, banyak wilayah di Jakarta saat ini sudah termasuk kategori tidak nyaman secara termal,” ujarnya.

Fajar menjelaskan, indeks tersebut merupakan turunan dari parameter meteorologi untuk menggambarkan tingkat panas yang dirasakan manusia, termasuk potensi dampaknya terhadap kesehatan, kenyamanan, dan aktivitas harian. Indeks ini dibentuk dari kombinasi suhu udara dan kelembapan, lalu diproses menggunakan model INA-NWP atau numerical weather prediction yang dipadukan dengan data observasi agar mendekati kondisi nyata.

Dalam pengembangannya, BMKG mengelompokkan kenyamanan termal ke dalam empat kategori, yakni dingin, nyaman, agak nyaman, dan tidak nyaman. Kerangka yang sama akan digunakan untuk dashboard nasional yang sedang disiapkan.

“Yang sedang disusun ini untuk seluruh Indonesia. Kalau yang ada di website saat ini baru mencakup Jakarta, Kepulauan Seribu, dan Jabodetabek,” katanya.

Meski BMKG menyediakan prakiraan, prediksi, dan indeks, Fajar menyebut tindak lanjut di tingkat aksi publik perlu melibatkan pemerintah daerah. Sebab, pemerintah daerah yang berhadapan langsung dengan masyarakat di wilayah masing-masing.

“BMKG tugas pokoknya memberikan informasi cuaca. Untuk call to action, seharusnya pemerintah daerah,” ujar Fajar.

Ia mengatakan, tim klimatologi BMKG telah beberapa kali berdiskusi dengan PMI untuk meminta masukan terkait pengembangan indeks tersebut. Namun, pembahasan lintas sektor masih perlu diperkuat agar informasi BMKG dapat diterjemahkan menjadi panduan aksi yang jelas bagi masyarakat.

Fajar menilai Indeks Kenyamanan Termal perlu diperlakukan sama pentingnya dengan indeks curah hujan atau indeks kualitas udara. Informasi ini dapat membantu publik memahami risiko cuaca panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses