Pemandangan memprihatinkan kembali menimpa Sungai Cileungsi. Aliran air yang melintasi kawasan Bogor hingga Bekasi ini mengalami perubahan warna menjadi hitam pekat, diiringi aroma menyengat yang mengganggu aktivitas harian warga di sekitarnya.
Masalah pencemaran yang berulang setiap tahun ini bukan sekadar persoalan estetika lingkungan, tetapi sudah menjadi ancaman kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem air.
Perubahan fisik pada air sungai tersebut menjadi indikasi kuat masuknya kontaminan berbahaya dalam jumlah besar.
Menghitamnya air sungai turut memicu keluhan berat dari masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai, mulai dari masalah bau tak sedap yang meresap ke pemukiman hingga kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap sumber air bersih.
Penyebab Menghitamnya Sungai
Umumnya air Sungai Cileungsi akan menghitam saat memasuki musim kemarau. Pada periode ini, debit air alami sungai mengalami penurunan drastis. Penurunan volume air ini memicu penurunan daya tampung dan daya dukung beban pencemaran sungai (assimilative capacity), sehingga konsentrasi polutan yang masuk tidak tersaring atau terencerkan dengan baik.
Penyebab utama dari perubahan warna dan kualitas air diduga kuat berasal dari pembuangan limbah industri dan limbah domestik yang tidak terolah dengan optimal.
Berbagai aktivitas manufaktur dan kawasan pemukiman padat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) berkontribusi membuang zat sisa langsung ke badan air. Ketika debit sungai mengecil, konsentrasi bahan kimia, bahan organik, dan material pencemar lainnya terkumpul pesat, menciptakan efek visual air berwarna hitam pekat serta berbau busuk.
Prof Etty Riani, Guru Besar IPB University dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), sekaligus pakar pencemaran dan ekotoksikologi, menjelaskan perubahan warna dan bau tersebut umumnya berkaitan dengan tingginya bahan organik dari limbah domestik, peternakan, industri, dan lainnya.
Menurutnya, bahan organik yang masuk ke sungai akan diuraikan mikroorganisme dengan menggunakan oksigen. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya biochemical oxygen demand (BOD), yaitu kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan organik secara biologis, dan chemical oxygen demand (COD), yakni kebutuhan oksigen untuk mengoksidasi bahan pencemar secara kimiawi yang sulit hingga sangat sulit urai.
“Banyaknya bahan organik akan menyebabkan oksigen dimanfaatkan untuk menguraikannya, sehingga BOD dan COD meningkat serta oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) menurun,” ujarnya
Dampak Langsung terhadap Masyarakat Sekitar
Pencemaran Sungai Cileungsi membawa dampak langsung yang mengganggu kehidupan harian warga bantaran sungai. Aroma menyengat yang terhirup setiap hari memicu gangguan pernapasan, mual, serta pusing bagi sebagian penduduk.
Bagi warga yang masih bergantung pada sumur resapan dekat sungai, terdapat risiko penurunan kualitas air tanah yang berpotensi terkontaminasi oleh infiltrasi air sungai yang tercemar.
Selain masalah kesehatan fisik, warga tidak lagi dapat memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan pencucian, perikanan, maupun irigasi. Ekosistem perairan pun terganggu hebat, tingkat oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yang merosot tajam akibat tingginya beban pencemaran organik kerap memicu kematian massal biota sungai.
Penurunan DO dapat menyebabkan kondisi anaerob atau anoksik, yaitu kondisi ketika oksigen sangat rendah atau hampir tidak tersedia. Dalam kondisi tersebut, bakteri dapat mereduksi sulfat menjadi sulfida. Sulfida kemudian bereaksi dengan besi membentuk besi sulfida yang berwarna hitam.
Sementara itu, gas hidrogen sulfida (H₂S) menimbulkan bau khas seperti telur busuk. Senyawa mangan yang ikut mengalami reduksi juga dapat menyebabkan warna air semakin gelap.
Bahaya Sedimen dan Limbah
Etty menambahkan, sedimen yang terkontaminasi limbah berbahaya bertindak seperti bom waktu ekologis. Ketika terjadi perubahan arus, kenaikan suhu, atau peradukan air, zat pencemar beracun yang terikat di dalam sedimen dapat terlepas kembali ke kolom air (resuspensi).
Proses ini menyebabkan toksisitas air tetap tinggi meskipun pembuangan limbah dari permukaan sempat terhenti.
Selain itu, limbah kimia industri yang mengendap mengandung berbagai senyawa berat dan bahan anorganik sulit terurai. Pakar IPB memperingatkan, paparan material berbahaya dari sedimen ini berpotensi masuk ke dalam rantai makanan (bioakumulasi), sekaligus mengancam kesehatan manusia apabila mengonsumsi biota yang terpapar pencemaran tersebut.
Upaya Penanganan
Prof Etty menegaskan, warna dan bau air hanya menjadi tanda peringatan awal dan belum cukup untuk menentukan jenis maupun sumber pencemar.
“Tanpa hasil laboratorium, kita hanya dapat mengatakan terdapat indikasi pencemaran atau gangguan kualitas air, bukan menyatakan jenis limbah atau pelakunya,” katanya.
Kondisi Sungai Cileungsi membutuhkan penanganan lintas wilayah dan koordinasi ketat antar-instansi pemerintah.
Penanganan pencemaran sungai tidak cukup hanya mengandalkan pembersihan permukaan atau pengerukan sedimen secara berkala, melainkan harus menyentuh akar permasalahan di sepanjang DAS Cileungsi.
“Harusnya dicek daya dukung dan daya tampung sungainya. Jangan-jangan sebenarnya sudah jauh terlewati sehingga tidak boleh lagi ada kegiatan yang membuang limbah ke sungai,” ujarnya.
Upaya pengawasan terhadap pelaku industri di sepanjang aliran sungai terus dilakukan oleh pihak berwenang melalui verifikasi lapangan dan pemantauan kualitas air. Penegakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan pembuangan limbah cair menjadi krusial guna memberikan efek jera.
Di sisi lain, pembangunan dan optimalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal bagi pemukiman serta IPAL industri skala sesuai standar menjadi syarat mutlak untuk mencegah polutan masuk kembali ke badan sungai.




