Asap pekat kembali menodai langit Kalimantan Tengah, membawa serta aroma hangus dari salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati Indonesia. Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung aman bagi primata ikonik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), kini tengah menghadapi krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan. Api yang merangsek masuk telah mengubah kanopi hijau yang rimbun menjadi hamparan abu, dan angkanya membengkak drastis.
Kabar awal yang menyebutkan 1.200 hektare lahan terbakar kini telah jauh terlampaui. Hingga Kamis (10/9/2026) sore, luas kawasan konservasi yang terdampak amuk si jago merah tercatat mencapai 3.105,47 hektare. Angka tersebut bukan sekadar statistik; ia merepresentasikan hilangnya jutaan ton biomassa, hancurnya sumber makanan satwa, dan menyempitnya ruang hidup bagi berbagai spesies yang sangat bergantung pada keutuhan ekosistem hutan tropis.
Di lapangan, Kepala Balai TNTP Yohan Hendratmoko merinci bahwa kebakaran menyebar cepat di sejumlah titik strategis. “Data Balai TNTP per 9 September 2026, kebakaran tersebar di tiga wilayah resor. Luasan terbesar berada di Resor Sungai Cabang, SPTN Wilayah III Tanjung Harapan, dengan area terdampak sekitar 1.113,70 hektare sejak kebakaran teridentifikasi pada 30 Agustus 2026,” ujar Yohan. Selain itu, Resor Teluk Pulai telah kehilangan sekitar 1.062,24 hektare sejak 7 Agustus, sementara di Resor Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, api menghanguskan 929,83 hektare sejak 26 Agustus 2026.
Tanjung Puting memiliki fungsi ekologis yang tidak tergantikan. Namun, memadamkan api di lanskap ini bagaikan bertarung melawan musuh yang tak kasat mata. Kondisi medan diperparah karena sebagian besar kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan kedalaman 0,5 hingga 4 meter. Di lahan gambut, api dapat terus menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah, membuat proses pemadaman memakan waktu lebih lama dan membutuhkan penanganan ekstra intensif.
Sekitar 70 personel gabungan—terdiri dari pegawai Balai TNTP, Masyarakat Peduli Api (MPA), Pokdarwis, mitra Orangutan Foundation International (OFI), OF-UK, mitra FNPF, hingga PT Kumai Sentosa—kini berjibaku tanpa henti di lokasi kejadian. Operasi darurat ini difokuskan di Teluk Pengarangan/Kumai, Teluk Pulai, Sungai Cabang, dan Sungai Perlu. “Fokus penanganannya menghalau api agar tidak menyebar ke area yang lebih luas di wilayah Kobar dan Seruyan,” tegas Yohan.
Meski semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh para tim di lapangan, mereka dihadapkan pada realitas yang getir. “Pemadaman pun menghadapi tantangan berat. Selain akses menuju lokasi yang terbatas, petugas juga menghadapi keterbatasan personel serta sarana dan prasarana pendukung,” ungkap Yohan menyoroti kesulitan timnya.
Tragedi di Tanjung Puting ini menjadi alarm keras bahwa status kawasan konservasi membutuhkan sistem pengendalian kebakaran darurat yang jauh lebih masif. Untuk memutus rantai kehancuran habitat orangutan ini, upaya darurat dari udara menjadi harapan terakhir. “Kami mohon bantuan water bombing guna membantu proses pemadaman dan mencegah kebakaran hutan yang lebih luas,” pungkas Yohan dengan penuh harap. Tanpa intervensi dari langit dan bala bantuan yang memadai, bara di lahan gambut Tanjung Puting akan terus menelan masa depan salah satu paru-paru terpenting Borneo.
- Bara di Tanjung Puting Hanguskan Ribuan Hektare Habitat Orangutan

- Menjadikan Rumah Ibadah Benteng dalam Menghadapi Krisis Iklim

- Tak Ada Air dan Dikepung Asap, Desa Komunitas Dayak Arut Bak Kota Mati

- Puluhan Miliar Dana Iklim Tak Mampu Padamkan Api di Kalimantan Barat

- Leonardo DiCaprio Soroti Kebakaran Hutan Indonesia Akibat Pembukaan Lahan Pertanian

- Banjir dan Longsor Kembali Terjang Sumatera Akibat Pemulihan Ekologis yang Belum Tuntas





