Di Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terdapat sebuah dusun yang unik dan penuh dengan tradisi, yaitu Kampung Adat Kuta. Tempat ini sering disebut sebagai “Kampung Seribu Pantangan” karena banyaknya aturan yang dijalankan oleh penduduknya sejak ratusan tahun lalu. Aturan-aturan ini terangkum dalam konsep pamali, yang menjadi pedoman hidup masyarakat setempat.
Pamali, sebuah istilah yang berasal dari masyarakat Sunda, adalah kerangka berpikir yang didasarkan pada pola hukum sebab akibat. Dalam konteks menjaga alam dan lingkungan, pamali masih dipatuhi dan dijalankan hingga kini, terutama oleh kelompok masyarakat adat yang tetap kukuh menjalankan amanat para leluhurnya.
Masyarakat Kampung Adat Kuta hidup dengan filosofi yang kuat, seperti yang dijelaskan oleh Warja, sesepuh kampung. “Tebing kayuan bambuan, rendah empangan, rata sawahan rumahan.”
Kalimat ini berarti jangan menggunduli tebing, karena pohon tidak bisa menahan air dan dapat menyebabkan longsor. Membuat kolam harus di tempat yang sudah tersedia air saja, tidak harus meratakan gunung atau lokasi yang mengganggu ekosistem lain. Membuat sawah dan rumah harus di tempat yang rata, jangan memaksakan di tempat yang berpotensi merusak alam.
Leuweung Keramat
Kampung Adat Kuta memiliki hutan lindung yang disebut Leuweung Keramat, seluas kurang lebih 40 hektare. Hutan ini sangat disakralkan dan tidak boleh diganggu keberadaannya. Untuk memasuki area hutan ini, hanya boleh dilakukan pada waktu-waktu tertentu, yaitu satu minggu dua kali pada hari Senin dan Jumat. Pengunjung harus melepas alas kaki, tidak boleh buang air, atau meludah di dalam hutan. Juru kunci juga wajib melakukan ritual sebelum memasuki hutan ini.
“Kalau buat kami masyarakat adat, hutan atau leuweung itu memang wilayah penting, wilayah sakral yang harus dijaga,” kata Warja, sesepuh Kampung Adat Kuta.
Di dalam Leuweung Keramat, puluhan jenis pohon dan satwa masih sangat terjaga. Banyak jenis burung, kera, lutung, dan hewan lainnya dapat ditemukan di sini. Berkat keberhasilan masyarakat dalam menjaga hutan lindung ini selama puluhan tahun, pada tahun 2002, masyarakat Kampung Adat Kuta diganjar penghargaan Kalpataru dari Presiden Megawati Soekarno Puteri. Selain itu, kampung ini juga telah menerima banyak penghargaan lainnya yang terkait dengan lingkungan.
Komitmen dan Konsistensi
Bagi masyarakat Kampung Adat Kuta, pamali adalah benteng pertahanan dalam melestarikan alam. Komitmen dan konsistensi dalam menjaga lingkungan terus dipegang kuat oleh mereka. Mereka percaya bahwa laku lampah yang tidak sejalan dengan adat akan menimbulkan malapetaka.
“Yang terpenting hutan adalah sumber kehidupan. Kalau sampai rusak, berarti akan rusak pula kampung kami,” kata Warja, sesepuh Kampung Adat Kuta.
Jika hutan mengalami kerusakan, masyarakat akan menggelar upacara netepkeun kawilayahan. Sebelum upacara digelar, bibit kayu dikarantina selama 40 hari. Warga yang menanam bibit juga diwajibkan memantau kondisi pertumbuhan bibit hingga siap untuk ditanam di hutan larangan.
“Kalau penentuan waktu dilaksanakannya upacara tidak pasti, tergantung pada kondisi. Seperti sekarang ini baru terjadi (kebakaran). Wilayah tutupan habis terbakar semua. Kalau wilayah larangan perlu kesepakatan dulu kapan kita melihat ke sana. Kalau sepakat yang pasti nanti ada upacara netepkeun,” ucap Warja.
Meskipun teguh memegang tradisi, masyarakat Kampung Adat Kuta tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Mereka menggunakan teknologi dan peralatan elektronik seperti masyarakat perkotaan, tetapi tetap menjaga keberlangsungan tradisi dan adat istiadat mereka.
Kampung Adat Kuta adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat bersinergi dengan upaya pelestarian lingkungan, menunjukkan bahwa dengan komitmen dan konsistensi, kita dapat menjaga kelestarian alam untuk generasi masa depan. [Sepia Pebrian]
- Peringatan Utang Lingkungan yang Diwariskan di Hari Lingkungan 2026
Indonesia menghadapi akumulasi krisis ekologis berupa lonjakan deforestasi, meluasnya konflik agraria, hingga bencana hidrometeorologi yang rutin menerjang. - Jejak Kerusakan di Cagar Alam Cycloop Ancam Kehidupan Masyarakat Adat Papua
Tim pemantau mendeteksi enam titik bukaan lahan kebun baru yang digarap secara berpindah-pindah. Lahan-lahan liar itu dibuka pada ketinggian 100 hingga 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepat di atas jalur rawan bekas bencana longsor tahun 2019. - Aktivitas Pertambangan Merusak Karst dan Memadamkan Senja di Pantai Kartika
Megahnya tebing-tebing karst dari Formasi Laonti yang berbatasan langsung dengan Selat Wawonii, kawasan ini pernah menyajikan panorama memukau layaknya Raja Ampat versi mini. - Kerusakan Lingkungan Membuka Gerbang Wabah Malaria Zoonosis di Indonesia
Sepanjang tahun 2025, kasus malaria di Indonesia melonjak hingga mencapai 706.297 kasus, mengalami peningkatan sebesar 30 persen jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencatatkan 543.965 kasus. - Jejak Kotor dan Luka Ekologis di Atas Narasi Hijau Proyek Geothermal Mataloko
Konflik panas bumi di Mataloko menjadi simbol kegagalan teknokratis yang dipaksakan. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko, kini diposisikan sebagai pilar utama agenda Flores Geothermal Island. - Sengkarut Perdagangan Karbon yang Mengancam Iklim Indonesia
Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Kehutanan, dinilai justru mereduksi fungsi hakiki hutan menjadi sekadar angka-angka karbon yang bisa diperjualbelikan.



