Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Perjuangan Nelayan Semarang Melawan Krisis Iklim

Pukul tiga dini hari di perairan Semarang, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Ahmad Marzuki telah membelah ombak bersama jaring-jaringnya. Ada kalanya tangkapan pagi itu cukup untuk menghidupi keluarga dan komunitasnya, namun kini hari-hari yang penuh keberuntungan itu semakin jarang terjadi.

“Suhu yang terus memanas benar-benar memukul pekerjaan saya,” keluhnya. Dahulu, membawa pulang 20 hingga 25 kilogram ikan dalam sehari adalah hal biasa, namun kini mendapatkan empat atau lima kilogram saja sudah terasa sangat sulit.

Laut yang kian pelit bukanlah satu-satunya kerentanan yang harus dihadapi Ahmad. Pada tahun 2019, proyek pengendalian banjir memaksa ia dan 164 jiwa lainnya angkat kaki dari kampung halaman mereka. Mereka dipindahkan ke hunian “sementara” yang entah mengapa, bertahun-tahun kemudian, statusnya tak kunjung berubah menjadi permanen.

“Di Indonesia, kami menyebut nelayan sebagai pilar perlindungan,” jelas Ahmad. “Kami menyediakan protein bagi keluarga. Namun, komunitas kecil seperti kami seolah selalu menjadi pihak pertama yang menderita,” tambahnya menahan getir.

Ketidakadilan ini mendorong Ahmad dan komunitasnya untuk berserikat, menuntut hak akses yang adil ke laut dan pesisir, serta hunian yang lebih aman. Meski upayanya gigih, kemajuannya terasa lambat. “Kadang rasanya suara kami tidak terdengar terlalu jauh,” ungkapnya merefleksikan kebuntuan yang kerap ia temui.

Dari Pesisir Semarang Menuju Ruang Majelis Global

Titik terang justru muncul dari arah yang tak terduga. Melalui sebuah acara komunitas yang digagas lembaga swadaya masyarakat setempat, Ahmad diundang untuk terlibat dalam Global Citizens’ Assembly on Food Systems and Climate. Ini adalah inisiatif global yang mengumpulkan warga biasa dari seluruh dunia untuk berbagi pandangan mengenai bagaimana perubahan iklim merombak cara manusia menanam, mencari, dan bergantung pada pangan.

Awalnya, Ahmad hanya menganggap acara ini sekadar pengisi waktu luang di tengah musim paceklik nelayan, di mana pekerjaan sedang sepi. Namun, takdir membawanya terpilih melalui sortition, sebuah sistem undian algoritmik yang dirancang khusus untuk menghasilkan kelompok yang representatif secara global.

Selama tujuh pekan, dari Januari hingga Maret 2026, Ahmad bergabung bersama 105 partisipan lintas zona waktu. Di ruang virtual tersebut, batas geografis meluruh. Ia duduk berdiskusi bersama seorang petani dari Uganda, mahasiswa asal Brasil, hingga insinyur dari Turki. Di minggu-minggu pertama, para peserta belajar langsung dari ilmuwan, pakar kebijakan, dan tokoh masyarakat adat mengenai kontribusi sistem pangan terhadap krisis iklim.

Bagi Ahmad, proses ini membuka mata batinnya. “Saya tak pernah menyangka bahwa kerusakan lingkungan bisa bermula dari makanan yang kita tanam dan makan,” tuturnya. Ia mengaku sebelumnya hanya memikirkan polusi dari mobil atau pabrik sebagai biang keladi.

Di forum tersebut, Ahmad tidak sekadar menjadi pendengar. Ia gigih menyuarakan realitas pesisir di tengah diskusi yang awalnya sangat didominasi oleh isu pertanian. “Saya memahaminya, tetapi saya juga ingin mereka melihat tantangan kami sebagai nelayan. Perjuangan kami berbeda, namun saling terhubung,” kenangnya melihat pergeseran pemahaman lintas budaya tersebut.

Ahmad Marzuki, seorang nelayan dari Semarang, membawa suara komunitas pesisir ke panggung dunia melalui partisipasinya dalam Global Citizens’ Assembly untuk memperjuangkan keadilan sistem pangan dan solusi atas krisis iklim

Membawa Perubahan Kembali ke Lautan

Perdebatan panjang itu bermuara pada kesepakatan kuat. Sebanyak 22 Seruan Aksi berhasil disetujui oleh lebih dari 80 persen anggota majelis. Usulan tersebut mencakup reformasi teknis seperti pelabelan keberlanjutan yang lebih jelas, hingga perubahan struktural yang mendalam seperti redistribusi subsidi dan pelestarian tradisi pangan lokal.

Gaung inisiatif ini bahkan mendapat dukungan dari pemerintah Brasil yang akan memimpin negosiasi iklim PBB, dan mengundang mereka untuk mempresentasikan rekomendasi tersebut di pertemuan internasional. Ini memberi ruang bagi warga pesisir seperti Ahmad untuk membagikan pengalaman langsung di forum pengambilan keputusan yang biasanya mengecualikan mereka.

Namun bagi Ahmad, perubahan sejati tak hanya diukur dari dokumen diplomasi dunia, melainkan dari aksi konkret di garis pantai. Setibanya di Semarang, semangat global itu ia bumikan. Ia kini bahu-membahu bersama warga lainnya untuk memulihkan terumbu karang dan melindungi padang lamun, karena ia makin menyadari peran vital ekosistem ini dalam menopang kehidupan laut.

Di bawah langit pesisir yang kian menantang, Ahmad menggantungkan asa. “Saya berharap semua orang menjadi lebih sadar akan lingkungan,” ujarnya. “Pemerintah perlu mengambil tanggung jawab, dan komunitas perlu mengambil tindakan,” pungkasnya mantap.

Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim. Donasi sekarang..

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses