Tepat dua pekan sebelum peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026, perairan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur menjadi saksi bisu bagi sebuah aksi nyata pemberdayaan perempuan di sektor maritim. Di sana, dua instruktur selam perempuan dari Komunitas Penyelam Profesional Perempuan Indonesia (KP3I), Mimi Amilia dan dr. Imelda Donosepoetro, memimpin langsung pelatihan keselamatan sebagai bagian dari penutupan program DAN Diving Safety 1000 Initiative.
Langkah ini tidak hanya sekadar pelatihan teknis, tetapi menjadi simbol kuat bahwa di tengah industri yang kerap didominasi laki-laki, perempuan mampu memegang kendali atas aspek paling krusial, yakni keselamatan jiwa.
Program yang telah berjalan sejak tahun 2023 ini berfokus pada materi First Aid Responder dan Basic Life Support (BLS) melalui kolaborasi antara KP3I, NAUI (National Association of Underwater Instructors), Divers Alert Network (DAN), serta Kementerian Pariwisata Indonesia. Sepanjang perjalanannya, inisiatif ini telah melatih lebih dari 1.000 peserta yang tersebar di berbagai destinasi wisata bahari Nusantara, mulai dari Kepulauan Seribu di Jakarta, kawasan Anyer-Merak di Banten, Manado, Ternate di Maluku Utara, hingga menyentuh titik-titik selam populer di Bali seperti Sanur, Amed, Tulamben, Pemuteran, dan Nusa Penida.
Di Labuan Bajo sendiri, para pemandu selam dan operator tur mendapatkan dukungan konkret berupa bantuan 1.000 First Aid Kit agar setiap pelaku industri memiliki kesiapan pertolongan pertama di tempat kerja masing-masing.
Kehadiran para pihak dalam pembukaan kegiatan tersebut menegaskan bahwa keselamatan kini telah menjadi agenda strategis nasional. Dukungan lintas sektor ini diwakili oleh kehadiran Itok Parikesit selaku Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata, Andy Marpaung sebagai Plt. Direktur Utama BPOLBF, Konstan Mardinandus selaku Direktur Destinasi, Cliff Richardson selaku CEO DAN, Bayu Wardoyo sebagai Country Manager DAN Indonesia, William Tong dari NAUI Training Manager Asia Pacific, serta Ebram Harimurti sebagai NAUI Representative Indonesia.
Sinergi antara pemerintah, organisasi global, dan komunitas lokal ini menjadi fondasi utama dalam menciptakan ekosistem pariwisata bahari yang profesional dan aman bagi wisatawan.
Mimi Amilia menekankan bahwa sertifikasi keselamatan bukan sekadar pemenuhan standar formal, melainkan nilai tambah yang membangun kepercayaan dunia terhadap reputasi destinasi wisata Indonesia. Baginya, momentum April ini adalah panggilan untuk terus bergerak melanjutkan semangat R.A. Kartini dalam memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan di era modern.
“Dengan melibatkan perempuan sebagai pemimpin dalam aspek teknis keselamatan, KP3I ingin menunjukkan bahwa peran perempuan di sektor maritim adalah krusial dan memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan pariwisata berkelanjutan,” katanya.
Perjuangan ini akan berlanjut ke ibu kota melalui partisipasi KP3I dalam Marine Action Expo yang akan digelar pada 24-26 April di Balai Kartini, Jakarta. Pemilihan lokasi pameran ini mengandung makna simbolis yang kuat untuk menghubungkan akar sejarah perjuangan perempuan dengan tantangan industri kelautan masa kini.
Dalam ajang tersebut, KP3I akan memamerkan berbagai inisiatif mulai dari edukasi keselamatan hingga upaya konservasi laut, sembari mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi menciptakan industri maritim yang lebih inklusif bagi semua pihak.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, perempuan Indonesia membuktikan bahwa mereka bukan sekadar partisipan, melainkan penggerak utama dalam menjaga keamanan dan kelestarian laut Nusantara,” pungkas Mimi.
- Perlawanan Warga Maba Sangaji Bela Lingkungan Masuki Babak PK

- Mahkota Putih Nusantara di Tanah Papua Segera Menjadi Batu yang Gersang

- Ambisi B50 Bisa Menarik Ikat Pinggang Rakyat yang Sudah Ketat

- Jejak Racun dan Ketidakadilan di Pulau Kabaena

- Perjuangan Nelayan Semarang Melawan Krisis Iklim

- Napas Kartini Spirit Penyelam Perempuan di Bawah Permukaan





