Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Asap Hutan yang Dibakar juga Mengambil Nyawa dan Masa Depan Anak-Anak Indonesia

Di bawah langit Kalimantan yang masih memerah akibat kepulan kabut asap, suara batuk berdahak balita terdengar memecah keheningan di banyak rumah dan fasilitas kesehatan.

Udara yang dihirupnya sudah bukan oksigen segar, tetapi partikel halus beracun atau PM2,5 dari 38.310 hektar hutan dan lahan yang dibakar di Pulau Borneo.

Musim kemarau di Kalimantan dan Sumatera kerap membawa ancaman tahunan kebakaran hutan dan lahan. Kerugian ekonomi dan luasnya hutan serta lahan gambut yang dibakar mungkin bisa diprediksi. Tapi bahaya sistemik terhadap masa depan dan tumbuh kembang generasi muda kerap dikesampingkan.

Racun yang Merusak Pernapasan

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga pertengahan September 2026, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat hutan yang dibakar mencapai lebih dari 151 ribu kasus di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota.

Harus digarisbawahi, anak-anak dan bayi menjadi korban paling rapuh dalam krisis ini.

Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, Sp.P(K), menjelaskan kabut asap karhutla mengandung kombinasi beracun antara PM2,5 serta gas bahaya seperti karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2).

“Exposure yang terus-menerus itu tidak bagus buat kesehatan respirasi. Terutama untuk kelompok rentan seperti bayi dan anak di bawah lima tahun,” papar Prof. Erlina.

Partikel mikro ini tidak sekadar mengiritasi mata dan tenggorokan, tetapi mampu meresap masuk jauh ke dalam kantong paru-paru (alveoli) hingga menembus pembuluh darah.

Peradangan kronis tak terhindarkan, sehingga memicu radang tenggorokan, bronkitis, hingga pneumonia akut yang mematikan pada bayi.

Dari Paru-Paru ke Perkembangan Otak

Mungkin masih sebagian besar masyarakat menganggap asap hutan yang dibakar hanya berdampak sementara pada saluran pernapasan. Begitu asap hilang dan sekolah kembali dibuka, masalah dianggap selesai. Padahal tidak sesederhana itu.

Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Fita Maulina, Sp.OG, mengungkapkan paparan jangka panjang PM2,5 menyimpan bahaya laten yang mengintai fungsi saraf dan fisik anak.

Anak yang berada di wilayah karhutla kerap mengalami ISPA berulang dan kelelahan kronis. Reaksi inflamasi yang terus-menerus ini memaksa metabolisme tubuh bekerja ekstra keras.

“Energi tubuhnya habis untuk melawan infeksi, sehingga pertumbuhan fisiknya terhambat (stunting),” kata dr. Fita.

Cadangan nutrisi yang seharusnya dialokasikan tubuh untuk pertumbuhan tulang, pembentukan organ, dan perkembangan jaringan otak akhirnya tersedot habis hanya demi mempertahankan fungsi pernapasan dasar.

Asap hutan yang dibakar secara tidak langsung sedang merampas potensi intelegensi dan fisik anak-anak. Asap yang sama juga mengambil nyawa dan masa depan anak Indonesia.

Upaya Penanganan di Tengah Kepungan Asap

Guna menanggulangi krisis yang makin kompleks, Kemenkes telah menyiagakan 1.898 tenaga kesehatan tambahan di 63 kabupaten/kota terdampak, menopang 1.691 puskesmas dan 360 rumah sakit rujukan.

Lebih dari 1,9 juta masker medis dan N95, ratusan unit oxygen concentrator, serta logistik penunjang telah dikirimkan ke wilayah Riau, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Pemerintah juga mendorong penyediaan Clean Air Room (Rumah Oksigen Kedap Asap) di fasilitas publik untuk memberikan pertolongan pertama bagi balita dan lansia yang mengalami sesak napas akut.

Memadamkan Sumber, Bukan Cuma Mengobati Gejala

Langkah darurat medis dan pengiriman jutaan masker memang patut diapresiasi. Tetapi sebagai bangsa, pengambil kebijakan tidak bisa terus-menerus menerapkan pola pemadam kebakaran, baru sibuk mengobati ketika paru-paru anak-anak sudah dipenuhi partikel berbahaya.

Krisis kabut asap adalah krisis tata kelola lingkungan dan penegakan hukum. Selama pembukaan lahan dengan cara membakar masih ditoleransi dan restorasi lahan gambut belum berjalan maksimal, selama itu pula kita menyerahkan tumbuh kembang anak-anak Kalimantan dan Sumatera sebagai taruhannya.

Anak-anak tidak bisa memilih udara yang dihirup saat terbangun. Memastikan mereka tumbuh sehat tanpa bayang-bayang stunting dan kerusakan saraf akibat racun asap adalah kewajiban mutlak negara.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses