Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Kalimantan Darurat Karhutla, Warga Menghirup Racun dalam Kepungan Kabut Asap

Beberapa hari terakhir cakrawala Pulau Kalimantan kembali meredup ditelan kepulan asap pekat. Pemandangan abu-abu yang menyelimuti pemukiman warga telah memangkas jarak pandang, serta memaksa warga menghirup udara yang jauh dari kata bersih.

Mulai dari pesisir Barat hingga ke bagian timur Borneo, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengamuk hebat, menyebarkan bencana ekologis yang seharusnya mendapat perhatian khusus dari para pemangku kebijakan.

Kondisi terparah melanda Kalimantan Barat (Kalbar). Berdasarkan pemantauan BMKG, titik panas (hotspot) melonjak tajam hingga menyentuh angka 2.841 titik. Sebagian besar sebaran api mengepung wilayah Kabupaten Sanggau, Landak, hingga area pinggiran Kota Pontianak.

Kabut asap tebal beraroma sangit membumbung tinggi dari kubah-kubah tanah gambut yang membara di bawah permukaan, mengepung wilayah permukiman dari pagi hingga malam hari.

Lonjakan Indeks Polusi

Kepungan asap tidak hanya merengut pemandangan alam, tetapi juga mencemari udara secara drastis. Data pemantauan kualitas udara Katadata (Databoks) mencatat, wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) menduduki peringkat teratas sebagai daerah paling polusi di Indonesia, dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai angka 198.

Angka tersebut menempatkan kualitas udara pada rentang Sangat Tidak Sehat, sebuah kondisi berbahaya yang mengancam saluran pernapasan jutaan jiwa secara langsung.

Sementara itu di Kalimantan Timur (Kaltim), situasi tidak kalah mencekam. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, terdeteksi lonjakan massif sebanyak 329 titik api yang tersebar di sepuluh kabupaten dan kota.

Amukan api menghanguskan vegetasi di kawasan hutan dan area perkebunan warga, serta membakar bentang alam tanpa ampun.

Bukan Hanya Karena Musim Kemarau

Isu tahunan ini dipicu oleh akumulasi fenomena alam dan aktivitas manusia. Masuknya puncak kemarau yang diperparah oleh fenomena iklim kering mengakibatkan ketersediaan air tanah di lahan-lahan gambut menyusut drastis.

Karakteristik tanah gambut yang kering menjadi bahan bakar sempurna, lantaraan amat mudah terbias, sulit dipadamkan, dan menyimpan bara di bawah permukaan walau permukaan atasnya tampak padam.

Di sisi lain, lanskap geografis yang sulit terjangkau membuat petugas pemadam di lapangan kerap bentrok dengan ekstremnya bentang alam. Terbatasnya sumber air di lokasi kebakaran serta sulitnya akses darat menuju titik api, memaksa para personel berjibaku dengan peralatan seadanya.

Warga Bertahan dan Butuh Bantuan

Dampak karhutla sudah menghantam langsung jantung kehidupan masyarakat. Di Palangka Raya, Kalteng, ketebalan kabut asap semakin menjadi-jadi.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya dilaporkan sudah bergerak dengan membagikan ratusan masker secara gratis kepada para pengguna jalan, serta menyiapkan layanan tabung oksigen di fasilitas kesehatan setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, mengatakan situasi udara yang semakin buruk meningkatkan risiko terserang penyakit bagi kelompok rentan.

“Kami dari Pemerintah Kota melalui Dinas Kesehatan membagikan masker untuk yang melewati bundaran. Lokasinya akan kita pindah-pindah. Yang jelas asap biasanya ISPA. Yang kedua, mereka yang asma mungkin kambuh. Bagi penderita asma, segera mungkin berobat,” tegas Riduan saat turun langsung menangani dampak kabut asap.

Masyarakat dipaksa beradaptasi di tengah kepungan polusi. Meskipun kualitas udara masuk dalam taraf berbahaya bagi paru-paru anak, sejumlah sekolah di Palangka Raya sempat dipaksa bertahan menjalankan aktivitas belajar mengajar tatap muka, sebelum akhirnya penyesuaian jam sekolah disiapkan oleh pemerintah daerah.

Pola Lama Penanganan yang Terus Berulang

Langkah penanganan yang berfokus pada tanggap darurat seperti membagikan masker dan menyiapkan oksigen, menegaskan pola lama yang berulang. Penanganan hanya berfokus pada gejala, bukan pada akar masalah.

Tindakan reaktif tanpa evaluasi menyeluruh atas izin konsesi lahan dan ketegasan hukum terhadap pembakar hutan hanya menjadikan masyarakat sebagai korban berkepanjangan.

Kabut asap yang saban tahun mengepung Kalimantan adalah cermin dari belum optimalnya tata kelola perlindungan alam dan keselamatan publik.

Jika komitmen pencegahan dari hulu terus abai, masyarakat Kalimantan akan selalu dipaksa bernapas di dalam kamar gas raksasa yang diciptakan oleh kelalaian manusia sendiri.

Selain itu, di balik angka-angka hotspot dan indeks polusi, ada harga mahal yang harus dibayar oleh keanekaragaman hayati Kalimantan. Ratusan hektare hutan yang hangus menghancurkan habitat alami satwa endemik.

Ekosistem gambut yang membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terbentuk, hancur dalam hitungan jam sekaligus melepaskan cadangan karbon raksasa ke atmosfer dan mempercepat krisis iklim global.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses