Bekas amukan api di kawasan gambut itu seringkali meninggalkan jejak kelam yang tak mudah terhapus. Hutan dan lahan yang dulunya menjadi spons raksasa penahan cadangan air, kini rentan mengering dan berubah menjadi bahan bakar masif setiap kali musim kemarau menyapa. Di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukanlah sekadar cerita usang, melainkan teror ekologis yang berulang.
Menyaksikan luka yang ditinggalkan oleh karhutla baru-baru ini, langkah pemulihan mendesak untuk segera diambil sebelum bencana selanjutnya datang. Di sinilah, pada Minggu (27/9/2026), sebuah ikhtiar pemulihan mulai dirajut kembali. Gerakan Pulihkan Rimba dan Budaya (GEMPUR) Kalimantan Barat, bergandengan tangan dengan JARI Indonesia Borneo Barat, menapaki tanah gambut Kalibandung untuk memulai survei titik pembangunan sekat kanal (canal blocking).
Bukan sekadar tumpukan material yang menghalangi arus, sekat kanal adalah “nadi buatan” yang krusial bagi keselamatan ekosistem gambut.
Menjaga Gambut Tetap Basah
Perjalanan tim GEMPUR ke lokasi-lokasi rawan tidak dilakukan sendiri. Mengusung pendekatan partisipatif, mereka menggandeng pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kalibandung. Diskusi panjang mengalir di lapangan; menyatukan peta teknis dengan kearifan lokal agar infrastruktur yang dibangun benar-benar selaras dengan karakter lanskap dan kebutuhan warga.
Koordinator GEMPUR Kalimantan, Beny Than Heri, memahami betul bahwa ekosistem gambut menuntut perlakuan khusus.
“Kalibandung baru saja menghadapi karhutla. Karena itu, pembangunan sekat kanal menjadi langkah pemulihan sekaligus pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang. Gambut yang tetap basah akan lebih terlindungi dari ancaman kebakaran,” tutur Beny menjelaskan filosofi di balik infrastruktur vital tersebut.
Menurut Beny, survei ini memegang peranan kunci. Penentuan titik yang tepat pada kanal-kanal buatan sangat menentukan efektivitas bangunan dalam menahan laju air. Pada prinsipnya, sekat kanal bekerja layaknya bendungan kecil yang menahan air agar tak tumpah terbuang. Infrastruktur ini memastikan tinggi muka air (water level) terjaga, sehingga kawasan gambut di sekitarnya tetap terhidrasi, basah, dan terhindar dari kondisi serasah kering yang mudah menyulut api.
Langkah Kecil di Tengah Kebutuhan Besar
Meski semangat pemulihan membara, realita di lapangan mengungkap tantangan yang tidak main-main. Kalibandung nyatanya masih membutuhkan benteng pertahanan air dalam jumlah yang masif.
Dari hasil diskusi dan pemetaan bersama Usman, salah seorang anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Kalibandung, terungkap fakta yang cukup menantang: desa ini setidaknya membutuhkan 15 unit sekat kanal yang tersebar di area-area gambut paling rawan terbakar. Sayangnya, hingga hari ini baru tiga unit sekat kanal yang berdiri membentengi kawasan tersebut.
Kehadiran GEMPUR yang akan membangun satu unit sekat kanal tambahan akan menggenapkan jumlahnya menjadi empat unit. Angka ini tentu masih jauh dari kata ideal untuk melindungi bentangan gambut desa secara komprehensif.
“Satu sekat kanal memang belum akan memenuhi seluruh kebutuhan desa. Namun, ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat perlindungan kawasan gambut sembari mendorong kolaborasi agar pembangunan sekat kanal di titik-titik prioritas lainnya dapat terus berlanjut,” ungkap Beny optimis. Baginya, satu langkah konkret jauh lebih baik daripada sekadar berdiam diri meratapi minimnya fasilitas.

Membangun Rasa Memiliki
Lebih jauh, pemulihan ekosistem gambut tidak akan pernah sukses jika hanya mengandalkan struktur fisik semata. Kunci utama dari ketahanan infrastruktur ekologis ini terletak pada manusia-manusia yang hidup berdampingan dengannya.
Beny menegaskan bahwa pelibatan masyarakat bukan sekadar formalitas, melainkan strategi paling mendasar untuk memastikan sekat kanal dapat dipelihara dan berfungsi dalam jangka waktu yang panjang.
“Kami ingin memastikan masyarakat menjadi bagian utama dari proses ini, mulai dari perencanaan hingga pengelolaan setelah sekat kanal dibangun,” tegasnya. Jika warga memiliki rasa kepemilikan dan memahami fungsi vital sekat tersebut bagi keselamatan desa mereka, niscaya warga sendirilah yang akan menjadi garda terdepan pelindung gambut.
Ikhtiar pemulihan di Kalibandung ini merupakan bagian dari kerja-kerja konservasi yang mendapat dukungan penuh dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI) melalui program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa menyelamatkan gambut Kalimantan membutuhkan sinergi kuat lintas sektor—mulai dari warga desa, aktivis lingkungan, hingga lembaga donor.
Kini, selepas survei lapangan dituntaskan, GEMPUR bersama para mitra mulai menyusun dokumen pemetaan sebagai landasan penentuan desain final serta lokasi pasti pembangunan fisik sekat kanal.
Bagi Desa Kalibandung, tambahan satu sekat kanal ini mungkin hanya sekeping kecil dari teka-teki raksasa pemulihan ekosistem gambut. Namun, dari sekeping demi sekeping itulah, asa untuk melihat gambut Kalimantan kembali basah, hijau, dan terbebas dari kepungan asap karhutla, perlahan diwujudkan.
- Ikhtiar Memulihkan Gambut di Kalimantan Barat

- Bara di Balik Gunungan Sampah TPA Cikundul Kota Sukabumi

- Paus 4 Ton Mati di Hutan Mangrove Sungai Bahale, Riau

- Menanti Janji Baru Prabowo Menjinakkan Bara Gambut Indonesia

- Perjuangan Warga Tidore Bertahan di Tengah Kemarau Panjang

- Kabut Asap Kebakaran Hutan Merusak Kesehatan Mental





