
Perubahan iklim semakin mendesak kehidupan. Orang-orang muda atau generasi penerus menjadi kelompok rentan dari dampak perubahan iklim. Mereka harus bergerak melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
“Kami merasa perlu adanya aksi yang terus berkelanjutan dengan motor penggeraknya adalah anak-anak muda. AMJI juga mengedepankan isu lingkungan sekitar kita yang dapat disuarakan, melalui aksi nyata secara spesifik,” kata Koordinator Nasional Penjaga Lau Erwin Falufi Irianti, diakses dari EcoNusa, Senin, 24 Februari 2025.
AMJI adalah Aksi Muda Jaga Iklim (AMJI). Tahun 2024 lalu bertepatan dengan Sumpah Pemuda sekitar 65.000 orang muda dari seluruh Indonesia berpartisipasi dalam Aksi Muda Jaga Iklim (AMJI). Puncak aksi tersebut dihelat serentak di 1.285 lokasi di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut menandai semangat kolektif anak muda untuk menanggapi dampak perubahan iklim yang semakin mendesak.
AMJI 2024 diinisiasi oleh komunitas Penjaga Laut, EcoDefender, dan Yayasan EcoNusa. Erwin Falufi Irianti, mengatakan banyak pemuda yang resah terhadap kondisi perubahan iklim. Namun, mereka belum memiliki wadah untuk bergerak bersama.
Orang muda adalah kelompok paling merasakan dampak perubahan iklim. Laporan The Climate Crisis Is a Child Rights Crisis: Introducing the Children’s Climate Risk Index’ dari UNICEF pada 2021 menyebutkan bahwa dari peringkat negara dengan tingkat paparan dan kerentanan anak terhadap perubahan iklim, anak-anak Indonesia termasuk yang paling rentan di dunia.
Menurut CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar, Indonesia adalah negara kepulauan yang berada di garis khatulistiwa. Dengan kondisi geografis seperti ini, Indonesia menjadi negara yang paling rawan terdampak perubahan iklim.
“Untuk menghentikan laju perubahan iklim ini tidak bisa dilakukan oleh kita sendiri, tapi harus dilakukan bersama-sama, berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk anak muda, pemerintah, swasta, juga organisasi,” ujarnya.
Antusiasme kolaborator dan relawan merespons dampak perubahan iklim
AMJI mengundang organisasi atau komunitas di seluruh Indonesia untuk bergerak bersama melawan krisis iklim. Tahun ini, sebanyak 85 komunitas dan organisasi bergabung menjadi kolaborator dan puluhan ribu relawan bergabung di semua titik aksi. Mereka terdiri dari pemerintah, pemuda, komunitas, dan sektor swasta. Kegiatan yang dilakukan pun beragam, di antaranya penanaman 18.400 mangrove dan 24.245 pohon, pembagian 21.680 bibit tanaman, penyemaian 450 bibit, aksi bersih-bersih sampah. Juga transplantasi 60 anakan terumbu karang, pelepasan 115 tukik, pembuatan ecobrick, dan diskusi mengenai efek pemanasan global.
Di Tangerang Mangrove Center, sebagai salah satu titik utama AMJI, sekitar 200 peserta melakukan aksi menanam 5.000 bibit mangrove, menyemai 3.100 batang mangrove, dan membersihkan sampah di sekitar pantai Teluk Naga. Kepala Badan Kesatuan Pemangku Hutan Serang, Perum Perhutani, Ronald Makabory, menyambut baik inisiasi anak muda untuk menjaga lingkungan ini, terutama dengan menanam mangrove untuk mengurangi gas rumah kaca.
“Sekarang negara kita sedang berupaya mencapai NDC (Nationally Determined Contribution/Target Kontribusi Nasional) salah satunya dengan penanaman mangrove. Jadi kami sangat mengapresiasi teman-teman AMJI melakukan kegiatan ini,” tuturnya.
Parade monster plastik di 7 kota
Selain kegiatan puncak pada 26 Oktober, kegiatan AMJI lainnya adalah Parade Monster Plastik yang digelar di tujuh kota besar di Indonesia, yakni Makassar, Ambon, Jakarta, Pontianak, Sorong, Salatiga, dan Gorontalo. Parade Monster Plastik digelar dengan mengarak monster raksasa yang terbuat dari sampah plastik, menelusuri jalan-jalan utama di setiap kota.
Parade Monster Plastik bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya sampah plastik sekali pakai dan pentingnya tindakan nyata dalam menjaga lingkungan hidup. Melalui gerakan nyata ini, diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk berkontribusi dalam pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan mempromosikan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Ini bisa dimulai dengan langkah kecil, seperti mengurangi pemakaian plastik sekali pakai dan menerapkan daur ulang.
Parade Monster Plastik di Makassar, Gorontalo, dan Ambon diselenggarakan pada 26 Oktober; Jakarta dan Pontianak pada 27 Oktober; serta Sorong dan Salatiga pada 28 Oktober. Penjaga Laut, EcoDefender, Yayasan EcoNusa, dan Metis menginisiasi parade tersebut di Makassar, Ambon, Jakarta, Pontianak, dan Sorong. Sedangkan kegiatan di Salatiga diinisasi oleh SMP Stella Maris dan di Gorontalo oleh Japesda.
Dalam proses pembuatan monster plastik tersebut, para anak muda yang terlibat mengumpulkan puluhan kilogram sampah plastik yang diambil dari lingkungan sekitar. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai komunitas lokal, sekolah, dan organisasi lingkungan, yang berkolaborasi untuk menyebarluaskan pesan penting ini.
“Parade ini bukan hanya sekadar tontonan. Kami ingin masyarakat memahami dampak negatif dari sampah plastik dan memotivasi mereka untuk melakukan perubahan. Edukasi menjadi kunci dalam mengatasi masalah ini,” kata koordinator Aksi Muda Jaga Iklim untuk Ambon, Suci Muhairan Eddy.
Dampak perubahan iklim diperparah sampah plastik
Sampah plastik memiliki dampak yang luas terhadap krisis iklim. Karena tidak hanya mencemari daratan dan lautan tetapi juga berkontribusi pada emisi karbon yang berbahaya. Laporan dari The Pew Charitable Trusts dan SYSTEMIQ (2020) menyatakan bahwa tanpa intervensi, jumlah sampah plastik yang memasuki lautan bisa mencapai 29 juta metrik ton per tahun pada 2040.
Dalam studi berjudul Breaking the Plastic Wave ini juga menyoroti bahwa polusi plastik di laut akan meningkat tiga kali lipat dalam dua dekade jika tidak ada langkah signifikan untuk mengurangi limbah plastik. Sampah tersebut mengancam satwa laut, merusak ekosistem, dan pada akhirnya masuk dalam rantai makanan manusia.
John Yewen, seorang komika, mengatakan permasalahan sampah plastik ini merupakan isu lingkungan yang serius. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga kelestarian lingkungan, termasuk untuk menyelesaikan permasalahan sampah plastik. “Ini isu semua orang. Jadi, semua orang harus peduli,” ujarnya dalam Parade Monster Plastik di Sorong.
- Polutan Udara Berbahaya Mengintai Kesehatan Warga Lima Kota Besar di Indonesia
Indonesia kini bertengger di peringkat ke-17 sebagai negara dengan kualitas udara terburuk di dunia, dengan konsentrasi rata-rata enam kali lipat lebih buruk dari panduan tahunan WHO. - Temuan Lima Logam Berat Hantui Dasar Laut Teluk Jakarta
Logam berat memiliki karakteristik yang sangat berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan. Logam ini tidak bisa terurai secara alami dan cenderung menetap di dalam sedimen laut untuk waktu yang sangat lama. - El Nino Memperparah Kemunculan Bara Sampah dan Dahaga Nasional
Iklim yang ekstrem memperbesar risiko ledakan api yang sulit dipadamkan di tumpukan sampah. Ketika terjadi, asap yang timbul sangat membahayakan kesehatan warga dan kualitas udara. - Sekolah Dikepung Tambang Emas Ilegal, Guru SMAN 8 Bungo Melawan!
Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat persemaian ilmu, malah bertransformasi menjadi ruang akustik yang penuh dengan kebisingan mesin tambang dari pagi hingga malam hari. - Nestapa Masyarakat Adat di Banggai dalam Cengkeraman Sawit
Alih-alih mendapatkan kompensasi dari perusahaan, lahan Jeke yang berada tepat di belakang pabrik itu telah dijadikan lahan inti dan dikuasai sepenuhnya oleh PT KLS. - Greenwashing: Paradoks Pendanaan ‘Hijau’ di Balik Industri Nikel Pulau Obi
DELAPAN tahun lalu, saat Pingkan masih balita, ia diserang sesak napas. Ibunya, Lily Mangundap, panik. Ia bolak balik ke Pustu dan klinik perusahaan mencari obat untuk anaknya. Di Pustu, obat sesak napas tidak ada, di klinik perusahaan, Lily ditolak karena suaminya bukan pekerja tambang. “Puji Tuhan, dia masih umur panjang. Saya cari obat sampe dapa,… Baca Selengkapnya: Greenwashing: Paradoks Pendanaan ‘Hijau’ di Balik Industri Nikel Pulau Obi



