Oleh: Asril R. Mahmud
Di Pulau Makian, pohon-pohon kenari berdiri lebih tua dari republik ini. Tumbuh dari sejarah panjang ketika rempah-rempah menentukan arah kekuasaan dan nasib pulau-pulau kecil di Maluku Utara.
Kini, di tengah deru tambang yang mengubah lanskap dan kehidupan masyarakat, pohon-pohon tua itu seolah menjadi saksi bisu bahwa sebelum mineral menjadi primadona, kenari pernah menopang kehidupan banyak keluarga.
Menurut Irfan Ahmad, dosen sejarah di Universitas Khairun Ternate, keberadaan kenari di Pulau Makian tidak bisa dipisahkan dari kebijakan kolonial Belanda pada abad ke-17.
Ketika VOC masuk ke Ternate dan kesulitan mengendalikan perdagangan cengkeh, mereka menjalankan penebangan paksa melalui pelayaran hongi (hongitochten). Pulau Makian menjadi salah satu sasaran utama. Pada 1652–1654, kebun-kebun cengkeh rakyat ditebang besar-besaran untuk membatasi produksi dan menjaga monopoli harga.
Untuk meredam perlawanan masyarakat, disebarkan kabar bahwa batang dan akar cengkeh dibeli lebih mahal daripada buahnya. Banyak warga mempercayai informasi itu dan menebang pohon mereka sendiri.
Pada saat yang sama, VOC memperkenalkan tanaman pengganti: kenari. Perlahan, kebun-kebun cengkeh yang telah diwariskan secara turun-temurun berubah menjadi kebun kenari yang kemudian mendominasi pulau hingga hari ini.
Menjelang abad ke-19, tanaman yang lahir dari strategi kolonial itu justru memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Warga diajarkan mengolah kenari menjadi minyak goreng, bahkan sebelum minyak kelapa digunakan secara luas. Sejak saat itu, kenari bukan sekedar tanaman pengganti, melainkan sumber kehidupan.
Berabad-abad kemudian, pohon kenari masih dipanen dengan cara yang hampir tidak berubah. Pagi di Desa Bobawae, Kecamatan Makian Barat, selalu menghadirkan ketenangan yang lembut. Asiani memanggul saloi, wadah anyaman tradisional untuk menampung buah kenari.
Sementara suaminya, Ridwan—yang akrab disapa Idu—mengangkut popoga, galah panjang untuk menjatuhkan buah kenari dari pucuk pohon. Setiap hentakan galah diikuti bunyi buah kenari jatuh, berpadu dengan desing angin laut dan aroma tanah basah.
Kenari sebenarnya bukan komoditas kecil. Satu pohon kenari dewasa dapat menghasilkan sekitar 30 kilogram biji dalam satu musim, meskipun jumlahnya dapat bervariasi tergantung kondisi cuaca dan usia pohon. Panen biasanya terjadi dua kali setahun, dengan satu musim panen besar.
Selain dipetik langsung dari pohon menggunakan popoga, sebagian warga juga mengumpulkan buah kenari yang jatuh secara alami. Pada musim panen, para pencari buah kenari ini dapat memperoleh sekitar 4 hingga 6 saloi dalam sehari, dengan satu saloi berisi sekitar 1 hingga 2 kilogram.
Di tingkat petani, kenari umumnya dijual dalam bentuk daging buah kering kepada pengepul desa dengan harga berfluktuasi, berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram, tergantung musim dan ketersediaan stok.
Masalahnya bukan hanya pada fluktuasi harga, tetapi juga panjangnya rantai pemasaran yang menyisakan selisih nilai di setiap tahap distribusi. Di Desa Bobawae misalnya, biji kenari yang dibeli pengepul sekitar Rp90 ribu per kilogram dapat dijual kembali di pasar Kota Ternate hingga Rp110 ribu per kilogram. Selisih ini menunjukkan bahwa nilai tambah justru lebih banyak terserap di luar tingkat petani.
Di sisi lain, pilihan petani untuk tetap menjual kepada pengepul desa bukan semata persoalan pasar, tetapi juga karena relasi sosial yang telah lama terbangun.
Banyak petani memiliki hubungan kekerabatan dengan pengepul, bahkan bergantung pada mereka dalam situasi mendesak. Ketika menghadapi kebutuhan ekonomi mendadak, petani kerap meminjam uang kepada pengepul dengan jaminan hasil panen. Kondisi ini memperlemah posisi tawar petani dalam menentukan harga.
Di tengah keterbatasan tersebut, kenari menyimpan potensi ekonomi yang jauh lebih luas daripada sekedar dijual sebagai bahan mentah. Menurut Irmawati, pengelola UMKM Ifamoy di Kota Ternate, biji kenari tidak hanya digunakan sebagai bahan kue, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti makanan ringan dengan beragam varian rasa, di antaranya kenari himalaya, lada hitam, gula merah, dan original serta produk lain seperti minyak kenari dan selai.
Sementara itu, cangkangnya dimanfaatkan sebagai kerajinan, bahan arang, hingga karbon aktif untuk pengolahan limbah industri. Hal ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi kenari cukup besar, meskipun hingga kini pemanfaatannya belum sepenuhnya terhubung dengan petani di tingkat desa.
Potensi yang belum sepenuhnya termanfaatkan ini sesungguhnya bukan hal baru. Bagi banyak keluarga di Pulau Makian, kenari pernah menjadi tulang punggung kehidupan. Di ruang tamu rumah-rumah warga Bobawae, foto anak yang telah meraih gelar sarjana terpajang rapi di dinding. “Ini semua karena kenari,” kata Riswan, seorang petani setempat. Pendapatan dari kebun dulu mampu membiayai pendidikan hingga perguruan tinggi dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Kini, ia menatap anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMA dengan kegelisahan. Harga kebutuhan pokok meningkat, sementara penghasilan dari kebun tidak menentu. “Entah bisa atau tidak dia jadi sarjana juga,” ujarnya pelan. Kekhawatiran itu bukan hanya milik satu keluarga, melainkan cermin kecemasan banyak petani kenari hari ini.
Di sisi lain, perubahan paling nyata terlihat pada generasi muda. Banyak anak muda yang dulu tumbuh membantu orang tua memanen kenari kini memilih bekerja di tambang. Bukan karena mereka tidak mencintai tanahnya, melainkan karena tambang menawarkan pendapatan yang lebih tinggi dan lebih stabil. Pilihan itu masuk akal, tetapi dampaknya besar, kebun-kebun kenari semakin kehilangan penerus.
Dalam skala yang lebih luas, fenomena ini mencerminkan ketimpangan struktural antara sektor pertanian dan industri ekstraktif. Tambang menyerap tenaga kerja, investasi, dan perhatian pembangunan, sementara pertanian—termasuk kenari—perlahan kehilangan pijakan.
Ketimpangan ini juga terlihat di tingkat lapangan. Infrastruktur menuju kebun juga buruk. Di wilayah Makian Barat misalnya, jalur produksi masih berupa jalan tanah yang sulit dilalui. Hal ini tidak hanya menghambat produksi, tetapi juga memperlemah posisi petani dalam rantai pemasaran.
Namun, kondisi ini bukan tanpa jalan keluar. Koperasi bisa mengubah posisi petani dari pihak lemah menjadi pelaku utama. Lewat koperasi, petani dapat menjual langsung ke pasar, memperkuat posisi tawar, dan berbagi pengetahuan produksi serta harga.
Di sisi lain, hilirisasi perlu menjadi perhatian serius dalam kebijakan daerah. Pemerintah dapat mendorong pengolahan hasil kenari melalui pelatihan, penyediaan alat, dan akses permodalan.
Jika kedua upaya ini berjalan, kenari tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah, melainkan berkembang menjadi basis ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Berbeda dari tambang yang suatu saat akan habis, pohon kenari dapat terus berproduksi selama dirawat dan diwariskan. Dengan pengolahan yang tepat, nilainya dapat meningkat sekaligus membuka lapangan kerja tanpa merusak lingkungan.
Di sinilah kenari memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan sekedar tanaman tua yang tersisa dari masa lalu, melainkan simbol bahwa Maluku Utara memiliki kemungkinan masa depan ekonomi yang tidak sepenuhnya bergantung pada ekstraksi mineral.
Selama masih ada tangan-tangan seperti Asiani dan Idu yang setiap pagi memanggul saloi dan mengayunkan popoga, harapan itu belum hilang. Kenari mungkin tersisih, tetapi belum punah. Dan akan kembali dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan di Maluku Utara.
Barangkali suatu hari nanti, Maluku Utara tidak hanya akan dikenal sebagai tanah tambang, tetapi sebagai tanah kenari—tempat di mana pohon-pohon tua kembali menjadi sumber kesejahteraan, dan masa depan dibangun bukan dengan menggali habis isi bumi, melainkan dengan merawat apa yang terus tumbuh di atasnya.
—–
Asril R. Mahmud adalah lulusan Magister Pendidikan IAIN Ternate, guru, dan penulis yang aktif dalam isu sosial dan budaya lokal di Maluku Utara serta tergabung dalam Komunitas Gusdurian Ternate.
- Ketika Kenari Terlupakan di Tanah Tambang

- Pakar IPB: Perdagangan Ilegal Satwa Liar Memicu Risiko Pandemi Baru

- Peneliti Temukan Tiga Spesies Baru Homalomena via Media Sosial

- Satwa Langka Kerap Muncul, Sinyal Bahaya Kerusakan Ekologis

- Di Balik Biaya PLTU Cirebon: Beban Pembangkit Tua di Tengah Transisi Energi

- Wabah Pes Berpotensi Bangkit Akibat Perubahan Iklim dan Lingkungan
