Beberapa tahun belakangan, burung yang didominasi warna hijau di tubuhnya dengan bagian kelopak hitam dan paruh berwarna merah ini lebih banyak ditemui di dalam kandang.
Corak kicaunya yang beragam dan panjang, membuat burung ekek geling jawa kerap dijadikan master untuk burung kicau lainnya yang dikompetisikan. Tingginya permintaan akan kebutuhan kompetisi itu, membuat burung yang ukurannya lebih besar dari beo ini menjadikannya incaran pemburu liar dalam dekade terakhir.
“Cepat stres, tidak lama kalau dipelihara (untuk kebutuhan master)” tukas Tony Sumampau, salah satu pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) 2026 di Bogor, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Populasi burung endemik Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat ini diperkirakan antara 50-249 individu di alam liar. Merujuk kondisi tersebut, International Union for Conservation of Nature memasukkan ekek geling jawa dalam status kritis atau critically endangered. Dua tahap jelang status extinct atau punah.
“Data real (jumlah di alam) tidak ada. Titik perjumpaan (dengan ekek geling jawa) di Jawa sedikit. Kalau populasi di eks-situ ada lebih dari 120 ekor. Di Eropa ada sedikit, di Jatim Park, di (Pusat Penyelamatan Satwa) Cikananga juga ada,” terang kurator Prigen Conservation Breeding Ark, Jochen Klaus Menner.
Nunik Prabawaningtyas, headkeeper penangkaran burung Taman Safari Indonesia (TSI) saat ini merawat empat pasang ekek geling jawa. Tiga dari empat pasangan tersebut sudah menghasilkan keturunan. “Sekarang sudah ada anakan F2,” tutur Nunik.
F2 merujuk pada generasi keturunan kedua. Keturunan ini hasil dari perkawinan generasi pertama jantan dengan generasi pertama betina yang berbeda galur keturunan. Pencatatan perkawinan antar individu berbeda garis keturunan di lembaga konservasi memiliki peran penting agar tidak terjadi in-breeding atau perkawinan dalam satu garis keturunan. Dampak perkawinan in-breeding memungkinkan ketidaksempurnaan pada keturunannya.
Nunik mengungkapkan, populasi awal dari ekek geling jawa yang ditangkarkan itu dari donasi masyarakat. “Telur sudah bisa menetas dalam waktu 23 hari. Untuk yang sudah 80 hari akan dipasang ring (di kakinya),” kata Nunik menjawab Ekuatorial saat mengintip burung tersebut di luar kandang berukuran 4 x 3 x 4 meter.
Di lokasi yang sama Nunik dan empat anggota timnya merawat dan memerhatikan perkembangan setidaknya 230 individu dari 50 spesies burung. Beberapa di antaranya, burung julang mas (Rhyticeros undulatus), julang irian (Rhyticeros plicatus), kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), elang jawa (Nisaetus bartelsi), kakatua raja (Probosciger aterrimus), curik bali (Leucopsar rothschildi), jalak putih (Acridotheres melanopterus), dan burung cucakrowo (Pycnonotus zeylanicus).
Perihal upaya pelepasliaran burung yang warna tubuhnya bisa menjadi biru jika terus di kandang ini, Tony mengungkapkan, terinspirasi dari burung jalak bali. Burung dengan kelopak mata berwarna biru terang itu sempat teridentifikasi hanya tersisa enam ekor di Taman Nasional Bali Barat, habitat aslinya. Pasca pelepasliaran burung jalak bali hasil penangkaran, populasinya terus bertambah hingga kisaran 600 individu di alam.
Pelepasliaran burung atau satwa ke habitat aslinya merupakan bentuk nyata peran lembaga konservasi untuk memastikan ekosistem di alam kembali seimbang. Burung ekek geling jawa, termasuk penjaga keseimbangan tersebut. Di alam, burung ini menjadi predator bagi jangkrik, tikus kecil, dan ulat yang potensial menjadi hama.
Burung ini juga menjadi ikon Silent Forest Campaign atau kampanye hilangnya suara alami di hutan yang diangkat European Association for Zoos and Aquaria (EASA) karena permintaan burung kicau di Asia Tenggara sangat tinggi. Indonesia, merupakan salah satu negara dengan jumlah spesies burung tertinggi yang dinilai terancam punah secara global di dunia dan tertinggi di Asia.

Jochen menilai peran konservasi eks-situ sangat penting dalam upaya memastikan kembalinya satwa-satwa, termasuk burung ekek geling jawa ke habitat asli. Khusus burung kicau, Jochen melihat ada tantangan besar karena mengakar secara budaya untuk perdagangan, kompetisi burung kicau, hingga simbol status.
“Seperti murai maratua (Copsychus barbouri) yang banyak ditemukan di teras rumah orang. Saat saya ke Indonesia tahun 2018, ada delapan individu yang ditemukan di sangkar di Jawa. Kalau semua yang kita temukan itu dikembalikan langsung ke alam (tanpa penangkaran) bisa jadi satu mati oleh kucing, ada yang infertil (tidak bisa menghasilkan keturunan), habis sudah,” kata Jochen.
- Menunggu Ekek Geling Jawa Kembali Berkicau di Hutan

- Menyulam Jaring Konservasi Spesies Indonesia

- Prudential Indonesia Tambah 5.500 Mangrove, Perkuat Benteng Alami Pesisir Jakarta

- Mampukah Indonesia Jadi Penentu Standar Global Bursa Mineral?

- Era Baru Geospasial Indonesia untuk Pengawasan Pesisir

- Dikepung Api dan Asap, Tiga Orangutan Kalimantan Terpaksa Turun ke Pemukiman





