Ketika kabut asap pekat akibat kebakaran hutan yang menyelimuti wilayah Kalimantan dan Sumatera, ancaman pertama yang langsung terasa adalah sesak di dada. Masker-masker dibagikan di simpang jalan, jarak pandang menyempit hingga hitungan meter, dan puskesmas desa mendadak penuh dengan keluhan asma hingga infeksi saluran pernapasan akut.
Selama puluhan tahun, respons darurat bencana selalu berfokus pada paru-paru. Namun, sains modern kini membunyikan alarm baru. Di balik partikel abu yang mencekik pernapasan, ada ancaman lain yang bergerak diam-diam, menembus aliran darah, dan menyelinap langsung ke dalam pusat kendali manusia: otak.
Tahun 2026 kembali menjadi saksi bisu betapa rentannya bentang alam Indonesia. Dari Januari hingga Juli, data dari platform SiPongi milik Kementerian Kehutanan mencatat 202.004 hektare lahan telah hangus terbakar. Angka ini melonjak tajam—naik 69 persen dibandingkan kebakaran hutan periode yang sama pada tahun 2025.
Puncaknya terjadi pada Juli lalu. Dalam kurun waktu satu bulan, nyaris 95 ribu hektare lahan berubah menjadi abu. Area terdampak paling parah tersebar di Kalimantan Barat, Riau, hingga Nusa Tenggara Timur.
Seperti diakui oleh Eduward Hutapea, Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup, rentetan titik api ini bukan sekadar bencana alam yang diturunkan langit. Mayoritas dari kebakaran lahan ini berakar pada aktivitas manusia, sebuah tragedi berulang yang dipicu oleh kesengajaan untuk membuka lahan maupun akibat kelalaian fatal.
Jalur Tikus Menuju Otak
Kita tahu asap itu berbahaya, namun bagaimana tepatnya asap karhutla mengacaukan kesehatan jiwa?
Laporan mendalam dari jurnalis sains Emma Foehringer Merchant yang dipublikasikan oleh Undark pada Maret lalu menyingkap mekanismenya. Partikel halus (PM2.5) dari asap kebakaran hutan memiliki ukuran yang sangat mikroskopis. Ukuran ini memungkinkan mereka menyusup jauh melewati paru-paru, masuk ke aliran darah, hingga akhirnya menembus benteng pertahanan paling ketat di tubuh kita: penghalang darah-otak (blood-brain barrier).
Bahkan, sebagian partikel ini memiliki “jalur tikus”. Mereka merambat naik langsung ke otak melalui rongga hidung. Begitu tiba di dalam otak, partikel asing ini memicu kepanikan pada sel-sel imun, yang kemudian menghasilkan peradangan saraf (neuroinflammation). Peradangan kronis inilah yang secara konsisten dikaitkan dengan lonjakan kasus kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Matthew Campen, seorang toksikolog dari University of New Mexico yang meneliti hal ini sejak 2020, menemukan bukti nyata pada tikus laboratorium. Paparan asap—bahkan dalam kadar rendah yang belum menimbulkan kerusakan paru-paru yang berarti—mampu memicu peradangan saraf, menurunkan kadar hormon serotonin (hormon penyeimbang suasana hati), dan menyebabkan penumpukan protein amiloid-beta di otak.
Yang paling meresahkan dari temuan Campen adalah efek penundaannya.
“Anda bahkan mungkin tidak sadar bahwa Anda sedang mengalami depresi atau kecemasan akibat paparan asap yang terjadi tiga minggu lalu,” ungkap Campen. Efek racun saraf ini bekerja secara diam-diam; kesehatan mental Anda bisa jadi sedang tergerus perlahan justru saat langit sudah kembali biru.
Data yang Berbicara
Studi skala besar pada manusia semakin memperkuat temuan di atas. Pada tahun 2024, sebuah penelitian terhadap 7 juta penduduk California menemukan bahwa resep obat antidepresan dan penstabil suasana hati melonjak drastis dalam enam pekan setelah peristiwa kebakaran hutan besar.
Setahun kemudian, analisis bersama dari tim peneliti Stanford dan Harvard terhadap 90 ribu kunjungan Instalasi Gawat Darurat (IGD) menemukan hal serupa. Mereka menyimpulkan bahwa paparan asap karhutla secara signifikan meningkatkan kemungkinan seseorang mendatangi IGD karena krisis kejiwaan.
Meski demikian, menarik garis lurus antara asap dan kesehatan mental bukanlah hal yang sederhana. Burcin Ikiz, neurosaintis dan pendiri Neuro Climate Working Group, mengingatkan bahwa ini adalah fenomena yang rumit.
“Sinyalnya memang nyata, tapi jauh lebih kompleks dibandingkan dengan dampak kardiovaskular,” jelas Ikiz. Bencana karhutla itu sendiri—melihat lahan pertanian hangus, mengungsi dari rumah, dan kehilangan rasa aman—merupakan pemicu trauma psikologis yang masif. Memisahkan antara kerusakan sel otak akibat asap dan trauma emosional akibat hilangnya ruang hidup masih menjadi tantangan besar bagi para peneliti.
Lanskap Unik Indonesia
Bagi warga di Kalimantan Barat atau Sumatera Selatan, rentetan temuan dari Amerika Serikat ini membawa pertanyaan besar yang mendesak untuk dijawab.
Karakteristik api di Indonesia sangat berbeda. Kita berhadapan langsung dengan kebakaran lahan gambut—material organik purba yang ketika terbakar memproduksi koktail kimiawi dan partikulat asap yang jauh lebih pekat dan tahan lama di udara. Paparannya pun tidak terjadi dalam hitungan hari, melainkan bisa menyelimuti seluruh kota selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Sayangnya, hingga detik ini, belum ada data resmi dari pemerintah maupun penelitian komprehensif di Indonesia yang khusus mengukur lonjakan masalah kesehatan mental pasca-paparan asap gambut di wilayah-wilayah episentrum karhutla. Pendekatan layanan kesehatan kita di area terdampak masih terpaku pada tabung oksigen dan obat asma.
Dengan lebih dari 200 ribu hektare lahan yang kembali hangus tahun ini, wacana ini tak bisa lagi diabaikan. Ini bukan hanya tentang melindungi paru-paru generasi mendatang. Di balik wajah-wajah kelelahan dan batuk kering di bilik-bilik puskesmas desa, ada kesehatan jiwa masyarakat yang perlahan terkikis, menunggu untuk dilihat, diakui, dan disembuhkan sebelum semuanya terlambat.
- Perjuangan Warga Tidore Bertahan di Tengah Kemarau Panjang

- Kabut Asap Kebakaran Hutan Merusak Kesehatan Mental

- Gemuruh Gugatan dari Pantura Lantaran PSN Berpotensi Merusak Tambak Rakyat

- UU Pengaturan Reforma Agraria Disahkan, Angin Segar yang Tetap Memiliki Catatan

- Dampak Asap Kebakaran Hutan bagi Kehidupan

- ‘Super El Niño’ Berpotensi Renggut Belasan Ribu Nyawa di Indonesia





