Tidak adanya laporan kasus klinis pada manusia selama lebih dari satu dekade sering kali dianggap sebagai tanda berakhirnya sebuah ancaman kesehatan. Meski begitu, jika dilihat dari sudut pandang epidemiologi, ketenangan ini bisa jadi hanyalah kamuflase biologis.
Terbukti dari peringatan serius yang dikeluarkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengenai potensi kembalinya wabah pes (sampar) di Indonesia. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia dan menular melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus, dan secara historis pernah melumpuhkan Pulau Jawa di awal abad ke-20.
Peringatan ini muncul bukan tanpa dasar. Meski kasus terakhir pada manusia dilaporkan terjadi pada tahun 2007, bakteri penyebab pes diketahui masih bersirkulasi secara laten di alam liar.
Berdasarkan hasil identifikasi para peneliti, destabilisasi ekosistem akibat perubahan iklim dan perubahan lingkungan seperti deforestasi, menjadi motor penggerak yang dapat membangunkan patogen mematikan ini dari masa tidurnya. Penyakit mematikan ini sekarang berpotensi bangkit kembali, dan jika tidak segera dicegah bisa saja melanggengkan wabah di Indonesia.
“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto,
Jejak yang Tak Pernah Benar-benar Hilang
Memahami risiko masa depan harus ditinjau dari kronik sejarah. Penyakit pes pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara melalui pintu perdagangan di Jawa Timur pada November 1910. Bakteri ini dibawa oleh tikus-tikus yang terinfeksi di dalam kapal kargo pengangkut beras asal Burma (kini Myanmar) yang bersandar di Pelabuhan Surabaya .
Tikus-tikus pelabuhan itu kemudian menyebar dengan cepat ke wilayah pedalaman, dengan laporan kematian pertama terdeteksi di Desa Turen, Kabupaten Malang. Dalam kurun waktu 1910 hingga 1916, peristiwa yang dikenal penduduk lokal sebagai Pagebluk Sampar telah merenggut jutaan nyawa dan memicu krisis kesehatan publik terbesar di era kolonial.
Sejarah mencatat, kelembaban tinggi di wilayah Malang pada masa itu menjadi faktor katalis utama yang mempercepat transmisi bakteri melalui pinjal tikus ke manusia .
Setelah fase pandemi besar tersebut, pes memasuki fase endemisitas di wilayah dataran tinggi dan bukan benar-benar hilang. Beberapa dekade kemudian, pes kembali muncul secara sporadis.
Kebangkitan pes sempat dilaporkan kembali terjadi di Boyolali pada 1968, serta Pasuruan pada 1987 dan 2007. Pola kemunculan setelah periode panjang tanpa kasus inilah yang kini menjadi perhatian utama para ahli.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujar Periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat.
Berdasarkan temuan dari riset BRIN, bakteri penyebab, serta vektor seperti pinjal dan reservoir berupa tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Secara biologis, Yersinia pestis adalah bakteri yang sangat tangguh. Di wilayah pegunungan Jawa, bakteri ini bertahan hidup dalam siklus alami antara tikus ladang (Rattus exulans) dan tikus rumah (Rattus rattus diardii) melalui perantara pinjal Xenopsylla cheopis.
Beberapa populasi tikus rumah bahkan telah mengembangkan resistensi genetik yang memungkinkannya membawa bakteri tanpa harus mati, sehingga memperlama durasi sirkulasi patogen di lingkungan.
Faktor Lingkungan jadi Risiko Utama
Seperti disinggung sebelumnya, salah satu faktor risiko utama yang diidentifikasi oleh BRIN adalah perubahan lingkungan yang drastis. Deforestasi, alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian atau ladang, serta pertumbuhan pemukiman yang tidak terkendali telah merusak batas alami antara manusia dan satwa liar.
Ketika hutan dibuka menjadi lahan pertanian, keseimbangan predator alami tikus terganggu. Akibatnya, populasi tikus liar kehilangan habitat asli dan mulai bermigrasi ke arah pemukiman manusia untuk mencari sumber makanan. Fragmentasi lahan ini menciptakan kontak erat yang tidak semestinya antara manusia dan hewan pengerat pembawa pinjal.
“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” imbuh Ristiyanto.
Di sisi lain, penelitian bertajuk Environmental Changes and Risk of Plague Epidemics in Indonesia menunjukkan, selain di Jawa Timur yang lingkungannya relatif stabil, banyak wilayah bekas titik wabah telah mengalami urbanisasi yang sangat cepat sehingga meningkatkan risiko transmisi spillover dari hewan ke manusia .
Perubahan Iklim sebagai Akselerator Wabah
Selain faktor fisik lahan, anomali cuaca global turut memperburuk situasi. Menurut BRIN, iklim berkontribusi langsung terhadap lonjakan populasi vektor penyakit. Fenomena seperti El Niño dan La Niña turut memengaruhi parameter fisik lingkungan, lantaran suhu dan curah hujan sangat krusial bagi siklus hidup tikus dan pinjal.
Perubahan iklim dapat menyebabkan ledakan populasi tikus hingga sepuluh kali lipat. Tikus memiliki kemampuan reproduksi yang sangat cepat. Seekor tikus betina dapat menghasilkan 15.000 hingga 18.000 keturunan baru dalam waktu kurang dari satu tahun, jika kondisi pangan dan suhu lingkungan mendukung.
Kenaikan suhu rata-rata juga mempercepat siklus hidup pinjal dan memperluas daerah persebarannya ke wilayah lebih tinggi yang sebelumnya terlalu dingin. Suhu antara 23 derajat hingga 30 derajat diketahui sebagai rentang optimal bagi efisiensi transmisi bakteri oleh pinjal Xenopsylla cheopis . Dengan meningkatnya suhu bumi, jendela waktu bagi pinjal untuk menularkan bakteri menjadi lebih panjang setiap tahunnya.
Menjaga Ambang Batas Penyebaran Pes
Saat ini beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus pes karena rekam jejak historis dan keberadaan reservoir yang persisten. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung. Di daerah-daerah ini, pemantauan terhadap Indeks Pinjal tetap dilakukan untuk memastikan risiko tetap berada di bawah ambang batas aman.
Secara teknis, risiko wabah dianggap meningkat jika Indeks Pinjal Umum (IPU) melampaui angka 1, berarti rata-rata ditemukan lebih dari satu pinjal pada setiap ekor tikus yang tertangkap. Oleh karena itu, ketiadaan laporan kasus pada manusia dalam sepuluh tahun terakhir tidak boleh membuat otoritas kesehatan lengah.
“Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya,” tegas Choirul.
Sebagai langkah antisipasi, BRIN merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pemantauan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.
Kewaspadaan ini sangat penting mengingat sifat pes sebagai penyakit zoonosis strategis dengan tingkat virulensi tinggi. Jika tidak terdeteksi secara dini, infeksi yang awalnya berupa bubonik (pembengkakan kelenjar getah bening) dapat berkembang menjadi bentuk pneumonik yang menular antar manusia melalui udara dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.
“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali,” pungkas Choirul.
Mitigasi berbasis pada data ilmiah dan pengelolaan lingkungan yang sehat menjadi satu-satunya jalan untuk memastikan sejarah kelam tahun 1910 tidak akan pernah terulang kembali di masa depan.