Di bawah riak gelombang pesisir perairan Pulau Buru, Maluku, sebuah tragedi ekologis sempat bersemayam. Survei lapangan yang dilakukan pada akhir tahun 2025 menyingkap potret bawah laut yang memilukan: hamparan terumbu karang hancur berserakan, menyisakan puing-puing yang tak lagi bernyawa. Kerusakan masif ini utamanya dipicu oleh praktik penangkapan ikan yang destruktif menggunakan bahan peledak (bom ikan), yang tidak hanya meremukkan struktur fisik karang tetapi juga melumpuhkan ekosistem laut.
Bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan tradisional di perairan Desa Jikumerasa, karang yang hancur berarti hilangnya habitat esensial bagi jutaan biota laut. Dampaknya sangat sistemik: tangkapan ikan menurun drastis sehingga mengancam sumber protein utama dan ekonomi warga, sementara garis pantai kehilangan benteng alaminya dari ancaman abrasi yang terus mengikis daratan.
Merespons kondisi kritis ini, sebuah langkah perbaikan konkret segera digulirkan. Membawa misi besar “Rediscover Buru: Moving Forward – Coral Restoration and Beyond”, sebuah ekspedisi selam gabungan berhasil merampungkan misinya pada 3โ10 Juni 2026 di Desa Jikumerasa, Kabupaten Buru, Maluku.
Kekuatan Lintas Sektor di Dasar Laut
Ekspedisi pemulihan ini diinisiasi oleh tim selam Wanadri Women Divers (WWD) dan Kodaeral IX TNI AL, sebagai tindak lanjut langsung atas temuan kerusakan ekosistem terumbu karang di perairan tersebut pada Oktober 2025 silam. Demi menjawab tantangan ekologis ini, 55 penyelam dari berbagai elemen turun langsung mengarungi lapangan dan bahu-membahu di bawah air.
Tim gabungan ini merupakan wujud nyata kolaborasi berbagai elemen, yang terdiri dari: 15 anggota Wanadri, 12 personel TNI AL, 15 anggota komunitas lokal Bupolo, dan empat anggota Ambon Dive Explorer (Adex). Kemudian ada juga tiga personel Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). dan dua akademisi dari Universitas Pattimura. Serta dua personel Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP). dan dua anggota Laskar Bahari Liliali.
Secara masif, mereka berhasil menanam sebanyak 2.500 fragmen terumbu karang. Upaya ini dilakukan melalui penurunan 50 unit metode substrat spiderweb (struktur jaring laba-laba), serta dipadukan dengan teknik transplantasi alami menggunakan metode penempelan paku dan tempel langsung pada karang.

Komitmen Konservasi Hingga 2028
“Dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama yang akan terus mendampingi program ini hingga 2028, kami memastikan bahwa upaya konservasi ini memberikan manfaat nyata bagi ekosistem maupun ekonomi pesisir,” tegas Endah Wahyu Sulistianti, Ketua Ekspedisi Wanadri Women Divers, yang meyakini bahwa keterlibatan masyarakat lokal adalah kunci dari keberhasilan restorasi.
Lebih dari sekadar aksi penanaman yang usai dalam hitungan minggu, ekspedisi ini dirancang khusus sebagai program keberlanjutan yang direncanakan terus berjalan hingga tahun 2028. Fokus utamanya mencakup monitoring (pemantauan) kondisi karang secara berkala serta pemberdayaan masyarakat pesisir agar mereka mandiri dalam menjaga lautnya.
Guna memastikan keberlanjutan pasca-ekspedisi, dua komunitas lokal telah resmi dibentuk untuk bertindak sebagai garda terdepan. Pertama, Bupolo Reefs Restoration, komunitas beranggotakan 21 orang yang telah dibekali pelatihan serta sertifikasi selam (scuba diving) selama dua angkatan untuk mendukung pemantauan langsung di bawah laut.
Kedua, Laskar Bahari Liliali, tim yang beranggotakan 9 nelayan, bertugas sebagai Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) untuk melindungi wilayah pesisir dari aktivitas destruktif yang merusak.
Dari Pulau Buru, sebuah pesan optimisme dipancarkan. Semangat kolaborasi dari Desa Jikumerasa ini diharapkan mampu menjadi fondasi inspirasi bagi upaya perlindungan ekosistem laut di seluruh penjuru Indonesia, demi merajut ketahanan lingkungan dan ekonomi untuk masa depan.
- Jerat Polusi Udara pada Jiwa dan Raga Warga Tangsel

- Ekspedisi Kolaboratif Pulihkan Terumbu Karang di Pulau Buru

- Menimbang Nuklir di Pusaran Arus Transisi Energi Indonesia

- Menjaga Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa

- Menghidupkan Kembali Terumbu Karang di Teluk Ekas

- Peringatan Utang Lingkungan yang Diwariskan di Hari Lingkungan 2026





