Skip to content Skip to navigation Skip to footer

Gajah Datang Kopi Tetap Aman

Usianya sudah tak muda lagi, tapi Suyati (70) masih semangat berladang. Ia mengolah lahan sekitar satu hektare di dalam kawasan Sepenat Alam Lestari, bagian dari bentang Alam Bukit Tigapuluh, di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Suyati satu-satunya perempuan yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Sepenat Unggul. Meleburkan diri dalam kelompok tani, menurutnya cukup menguntungkan. Ia bisa mendapatkan bantuan bibit, bimbingan, dan yang lainnya. WWF Indonesia yang sedang melaksanakan program restorasi berbasis masyarakat di sana, Suyati turut serta di dalamnya.

Menurutnya, program ini cukup menarik. “Ada bibit kopi yang ikut diberikan untuk kami yang ikut jadi peserta,” ungkapnya, awal Juni lalu. Selain itu ada juga bibit duren, alpukat, dan bibit pohon.  Semua sudah ia tanam sekitar bulan puasa yang lalu.

Suyati sangat tertarik dengan tanaman kopi. Dua tahun lalu, ia juga sudah menanam kopi di sela pohon karet yang jadi tanaman utama di kebunnya. Kopi jenis robusta itu tumbuh bagus di bawah naungan karet, dan sudah mulai dipanen. “Baru sekarang bisa panen, hasilnya lumayan,” ujarnya.

Wilayah mereka termasuk dalam jalur jelajah gajah. Ketika rombongan gajah berada di kebun warga yang ada di sana, kopi tidak termasuk tanaman yang dimakan atapun diganggu secara sengaja. Bila ada kopi yang rusak saat gajah melintas, ucapnya, penyebabnya adalah karena terinjak.

“Beda dengan sawit, itu dimakan gajah. Di sini memang tidak cocok sebenarnya untuk tanam sawit. Ada yang sudah tanam sawit beberapa kali dan selalu gagal karena saat gajah datang,” tuturnya.

Pada program restorasi berbasis masyarakat yang sedang berlangsung ini, petani dilibatkan untuk penyediaan sebagian bibit seperti kopi dan pohon, pembuatan kompos, penanaman, hingga penyulaman. Bibit yang disiapkan petani akan dibeli oleh WWF, lalu disalurkan lagi ke petani. Demikian juga dengan kompos yang mereka buat untuk kebutuhan bibit saat ditanam, serta biaya penanamannya. Hal ini meningkatkan perputaran uang di desa.

Untuk memonitoring bibit yang sudah ditanam, digunakan aplikasi reconnect plus. Suyati mengakui ia tak mampu menggunakannya. Ia tidak memiliki smartphone, dan merasa sudah asing dengan teknologi itu. Sebagai solusi, ia meminta cucunya, Saiful, yang juga satu kelompok dengannya, untuk menggunakan aplikasi tersebut.

“Saya yang bantu untuk penggunaan aplikasinya, karena nenek memang sudah tidak mampu lagi untuk mempelajarinya. Kami belajar sehari kemudian lakukan praktik, sudah langsung bisa pakai reconnect plus,” kata Saiful.

Bibit yang ditanam tidak semuanya berhasil tumbuh seperti yang diharapkan. Ada yang diserang hama, ada yang mati karena genangan banjir, dan faktor lainnya yang membuat tanaman tidak bisa 100 persen berhasil hidup. Terhadap bibit yang mati, dilakukan penyulaman. “Jenis bibit pohon itu yang banyak mati. Kalau kopi sangat bagus,” kata Suyati.

Saiful menambahkan, setiap anggota kelompok yang ikut program ini, memiliki tantangan berbeda. “Ada yang bibit alpukatnyayang  banyak yang harus disulam lagi. Tapi kalua kopi rata-rata bagus,” jelas Saiful.

Diungkapkan Nazli Herimsyah, Program Restorasi Berbasis Masyarakat di Tebo dilaksanakan di dua desa, yakni Suo-suo dan Muara Kilis. Ada 112 orang petani yang terlibat di program ini, menanam di lahan yang dikelola masyarakat seluas 163 hektare. Targetnya adalah penanaman 30 ribu beragam jenis bibit pohon. Menurutnya, tingkat survival rate bibit yang ditanam mencapai 80 persen.

Nazli menyeut, program ini diharapkan akan erkontribusi terhadap pemulihan fungsi ekosistem dan pengurangan tekanan terhadap habitat satwa liar. Program restorasi berbasis masyarakat di Landscape Bukit Tigapuluh ini memang lahir dari kebutuhan untuk menjawab tantangan ekologis dan sosial secara terpadu.

Pendekatan ini tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem yang terdegradasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, memperkuat pengelolaan kolaboratif, serta memastikan keberlanjutan konservasi melalui keterlibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan landscape.

“Dengan demikian, restorasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penanaman pohon, tetapi sebagai strategi membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dalam satu bentang landscape yang berkelanjutan,” jelasnya.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses