Skip to content Skip to navigation Skip to footer

27 Pejuang Menumpas Kebakaran Hutan di Lereng Arjuno

Langit di atas lereng Gunung Arjuno tak lagi biru bersih. Sejak Jumat siang (16/10/2026), sekira pukul 11.00 WIB, kepulan asap tebal mulai merayap naik, menandakan ancaman yang sangat diwaspadai oleh setiap penjaga hutan: kebakaran. Di bawah bayang-bayang puncak yang megah itu, sebuah pertempuran melawan api sedang berlangsung, sunyi dari deru mesin helikopter, namun sarat akan peluh dan keberanian.

Di tengah medan yang curam dan suhu yang terus meningkat, tidak ada armada udara yang datang menyiramkan air dari langit. Bantuan helikopter untuk operasi water bombing tidak bisa diharapkan. Jauh di pulau seberang, hutan dan lahan Kalimantan sedang menjerit lebih keras, memaksa armada udara difokuskan ke sana. Akibatnya, nasib lereng Arjuno kini sepenuhnya berada di tangan manusia-manusia tangguh yang berpijak langsung di atas tanahnya.

Sebanyak 27 personel gabungan diturunkan. Mereka bukan sekadar angka, melainkan barisan pertahanan terakhir yang terdiri dari jagawana Taman Hutan Raya (Tahura), Polisi Kehutanan (Polhut), pasukan elite Manggala Agni, hingga para relawan yang menolak tinggal diam. Tanpa guyuran air dari udara, mereka memadamkan api dengan cara paling purba dan melelahkan: pemadaman darat secara manual.

Mereka memukul bara, menyekat jalur api dengan membuat parit atau membersihkan serasah kering, dan berjibaku memastikan lidah api tidak menjilat kawasan hutan lindung lainnya yang masih perawan.

“Titik api mulai terdeteksi sejak pukul 11 siang, dan sebanyak lebih dari 27 orang relawan dari Tahura, Polhut, serta Manggala Agni langsung melaksanakan pemadaman secara manual,” ungkap Sugeng Hariyadi, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, seperti dilansir BeritaJatim.

Wana Wisata Cempaka di Dusun Bligen disulap menjadi urat nadi operasi ini. Di posko penanggulangan darurat inilah Sugeng dan timnya mengatur strategi, menghitung arah angin, mendistribusikan logistik, serta membaca titik panas (hotspot).

Sugeng mengakui kenyataan pahit di lapangan bahwa pemadaman manual adalah satu-satunya opsi yang mereka miliki saat ini. “Sampai saat ini api masih belum bisa dipadamkan, namun petugas tetap melaksanakan pemadaman secara manual sampai nanti benar-benar padam,” tegasnya. Nada suaranya menyiratkan keteguhan, meski menyadari betul risiko tinggi yang mengintai pasukannya.

Medan lereng Arjuno bukanlah taman bermain. Kemiringan yang terjal, angin pegunungan yang kerap berubah arah tanpa aba-aba, dan material kering sisa kemarau menjadikan tugas ini seperti berjalan di atas tali. Satu hembusan angin kencang bisa membuat api melompat melewati sekat yang sudah susah payah dibuat.

Sebab itu, di atas segalanya, keselamatan nyawa para personel tetap menjadi hukum tertinggi. Sugeng dan para komandan lapangan terus menyerukan agar tim di garis depan selalu waspada dan mengutamakan keselamatan jiwa di tengah kepungan asap dan tebing curam.

Saat berita ini diturunkan, ke-27 pahlawan lingkungan itu masih bertahan di kawasan rawan, menolak mundur sebelum bara terakhir di lereng Arjuno benar-benar mati. Perjuangan mereka menjadi pengingat nyata bagi kita: di saat teknologi tak bisa hadir, dedikasi manusia untuk merawat alam dan mencegah bencana yang lebih besar adalah satu-satunya harapan yang tersisa.


Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses